Ancaman kekeringan yang berpotensi terjadi akibat musim kemarau maupun fenomena iklim El Nino menuntut kesiapan infrastruktur sumber daya air yang matang. Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengambil langkah komprehensif untuk memastikan ketersediaan air bagi masyarakat luas maupun sektor pertanian. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo pada Sabtu, 1 Agustus 2026, menegaskan bahwa pengelolaan infrastruktur sumber daya air merupakan salah satu langkah krusial. Upaya ini dinilai sangat penting guna menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional di tengah situasi cuaca yang tidak menentu.
Sebagai tulang punggung penyediaan air permukaan, Kementerian PU terus menyiagakan berbagai fasilitas penampungan air yang tersebar di berbagai wilayah. Fasilitas tersebut mencakup bendungan, bendung, embung, hingga waduk yang dioperasikan untuk menjaga stabilitas pasokan air selama periode kering. Saat ini, Kementerian PU tercatat mengelola sebanyak 240 bendungan yang memiliki total kapasitas tampung mencapai 7,89 miliar meter kubik. Kapasitas ini masih ditunjang oleh keberadaan 601 situ dan danau dengan estimasi volume tampungan sekitar 135,59 miliar meter kubik. Selain itu, terdapat pula lebih dari 1.000 fasilitas tampungan air baku yang secara langsung mendukung pemenuhan kebutuhan air harian masyarakat.
Selain memaksimalkan potensi air permukaan melalui bendungan dan waduk, langkah mitigasi kekeringan juga dilakukan dengan mengandalkan sumber air tanah. Pemerintah saat ini tengah mengoptimalkan pengoperasian 10.789 titik sumur bor yang tersebar di sejumlah daerah. Fasilitas sumur bor tersebut memiliki total kapasitas penarikan air lebih dari 114 ribu meter kubik per detik. Optimalisasi sumur bor ini dirancang untuk menjadi sumber alternatif yang dapat diandalkan guna menjaga ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik masyarakat sekaligus mendukung keberlangsungan irigasi pada lahan-lahan pertanian yang rentan terhadap penyusutan pasokan air permukaan.
Jaga Ketahanan Pangan, Luthfi Perketat Perlindungan Sawah di Jateng

Guna menjamin air tersalurkan dengan tingkat efisiensi yang tinggi, Kementerian PU menerapkan strategi penyesuaian pola operasi pada infrastruktur yang ada. Pengaturan pola operasi bendungan dan jaringan irigasi dilakukan secara dinamis dengan menyesuaikan kondisi aktual di lapangan. Langkah ini bertujuan agar distribusi air dapat merata dan tepat sasaran. Di samping itu, untuk merespons kondisi darurat kekeringan yang mungkin terjadi secara tiba-tiba di kawasan terdampak, pemerintah telah menyiagakan armada peralatan teknis. Peralatan darurat yang disiapkan terdiri atas 125 unit pompa bergerak atau mobile pump, 921 unit pompa alkon, serta 49 unit mesin bor yang siap dikerahkan kapan saja.
Pendekatan teknis di lapangan turut diimbangi dengan langkah pemetaan dan edukasi. Pemerintah secara aktif melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah yang diklasifikasikan sebagai kawasan rawan kekeringan. Pemetaan ini menjadi basis data penting untuk menentukan prioritas penanganan dan alokasi bantuan peralatan. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan edukasi kepada masyarakat luas. Edukasi tersebut difokuskan pada langkah-langkah adaptasi yang perlu diterapkan oleh warga dalam menghadapi musim kemarau, sehingga masyarakat memiliki kesiapan yang lebih baik dalam mengelola penggunaan air sehari-hari secara bijak dan efisien.
Rudenim Pekanbaru Tampung 5 WN Bangladesh, Sebagian Besar Korban TPPO

Khusus untuk sektor pertanian yang mengonsumsi air dalam jumlah besar, Kementerian PU mendorong inovasi melalui penerapan teknologi Irigasi Padi Hemat Air, atau yang dikenal dengan singkatan IPHA. Teknologi ini dinilai sebagai solusi yang efektif karena mampu mengurangi kebutuhan dan konsumsi air di area persawahan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap produktivitas lahan. Melalui kombinasi kesiapan infrastruktur fisik, manajemen distribusi yang efisien, penyediaan peralatan darurat, hingga penerapan teknologi hemat air, pemerintah berupaya menciptakan sistem ketahanan air yang tangguh dalam menghadapi berbagai skenario kekeringan ekstrem.






