Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis perkembangan terkini terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Papua Barat. Meski secara umum kobaran api mulai terkendali per 30 Agustus 2026, petugas gabungan di lapangan masih menemukan titik asap dan sejumlah titik api aktif yang belum padam sepenuhnya.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa pantauan terkini menunjukkan adanya 20 titik panas (hotspot) serta 5 titik api yang masih menyala. Saat ini, jarak pandang di area terdampak dilaporkan berada pada kisaran 7 hingga 10 kilometer.
49 Orang jadi Tersangka Kerusuhan Demo DPR Usai Pemeriksaan Ratusan Massa

Penanggulangan karhutla di Papua Barat saat ini difokuskan pada operasi udara melalui metode water bombing, sementara pemadaman lewat jalur darat dihentikan sementara waktu karena kondisi geografis dan lebatnya vegetasi. Operasi udara tersebut diperkuat oleh dukungan dua unit helikopter dari PT Berau, serta satu helikopter milik BNPB yang telah menyiramkan air sebanyak 662.000 liter ke titik-titik kebakaran.
Sejumlah kendala teknis dan alam membayangi kelancaran operasi pemadaman. Berton mengungkapkan, tajuk vegetasi pohon yang tinggi serta rapat menahan jatuhnya air water bombing sehingga tidak langsung membasahi lantai hutan. Selain itu, keterbatasan jangkauan menara Bandara Babo menyebabkan hanya satu helikopter yang dapat mengudara dalam waktu bersamaan di area operasi. Pasokan bahan bakar pesawat atau avtur juga menjadi tantangan logistik tersendiri di lokasi.
Ruben Onsu Sepakat Ganti Kerugian Rp3,5 M, Laporan Polisi Dicabut

Mengingat potensi kemudahan terbakar yang diprediksi masih sangat tinggi hingga 5 September mendatang, BNPB mendorong agar Satgas penanganan karhutla segera diaktifkan kembali secara optimal, khususnya guna mengantisipasi eskalasi kebakaran di wilayah Teluk Bintuni dan Fakfak.






