Kementerian Sosial (Kemensos) menghadirkan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk membantu memulihkan kondisi mental warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Program ini digulirkan sejak Minggu (23/8/2026) dengan menitikberatkan perhatian pada kelompok rentan di tenda pengungsian.
Berikut rangkuman pertanyaan dan jawaban penting seputar pelaksanaan layanan psikososial, klasifikasi penanganan penyintas, serta keterlibatan berbagai pihak di lokasi bencana.
Siapa saja sasaran prioritas layanan psikososial di Sikka?
Layanan ini diprioritaskan bagi kelompok rentan yang mencakup anak-anak, perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta warga lanjut usia (lansia). Intervensi difokuskan untuk menjaga kesehatan mental para pengungsi agar terhindar dari dampak psikologis berkepanjangan akibat bencana.
Bagaimana hasil asesmen tingkat risiko trauma para penyintas?
Berdasarkan data asesmen psikososial yang dilakukan tim di lapangan, kondisi kejiwaan korban gempa terbagi menjadi tiga tingkatan:
Empat Kategori Baru dalam Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Sejalan dengan Asta Cita

- Kategori Merah (Risiko Sangat Tinggi): Mencakup sekitar 19 persen korban yang mengalami dampak psikologis atau trauma berat.
- Kategori Kuning (Risiko Sedang): Meliputi 31 persen penyintas.
- Kategori Hijau (Risiko Ringan): Mencakup 50 persen penyintas.
Bagaimana pembagian penanganan medis dan psikososial berdasarkan kategori tersebut?
Penanganan diberikan sesuai dengan tingkat keparahan risiko masing-masing penyintas:
- Penyintas Kategori Merah: Dirujuk langsung ke psikolog profesional dari perguruan tinggi maupun tim penanganan bencana untuk mendapatkan perawatan khusus.
- Penyintas Kategori Kuning dan Hijau: Diberikan pendampingan langsung oleh tim LDP melalui pertolongan pertama psikologis (Psychological First Aid/PFA), kegiatan rekreatif, serta berbagai program pemulihan fungsi sosial.
Mengapa trauma masa lalu peristiwa 1992 turut menjadi perhatian?
Tim LDP Kemensos menemukan bahwa sebagian warga masih menyimpan memori traumatik dari peristiwa gempa dan tsunami yang melanda Flores pada 1992 silam. Rasa cemas dan takut dari pengalaman masa lalu tersebut berpotensi kambuh kembali setiap kali terjadi gempa susulan.
Untuk mengatasinya, tim pendamping memberikan latihan stabilisasi dan teknik grounding agar warga dapat menenangkan diri saat merasa panik. Selain itu, para penyintas diberikan edukasi dan simulasi langkah penyelamatan mandiri apabila gempa susulan terjadi.
Eka Yogaswara Mohon Perlindungan Presiden Soal Tanah Tendean 41

Siapa saja lembaga yang terlibat dalam subklaster LDP?
Subklaster LDP diaktifkan sejak hari ketiga masa pengungsian dengan menghimpun kolaborasi lintas sektor yang melibatkan 18 lembaga dan organisasi non-pemerintah (NGO). Sebagian besar NGO memusatkan pendampingan pada anak-anak, sementara pelayanan psikososial untuk warga dewasa diselenggarakan bersama tim Kemensos.
Bagaimana susunan aktivitas harian di lokasi pengungsian?
Kegiatan harian di pos pengungsian dirancang terstruktur untuk mengembalikan rutinitas dan semangat kebersamaan warga:
- Pukul 06.00 WITA: Senam pagi bersama yang diikuti warga, anak-anak, relawan, serta personel TNI dan Polri, dilanjutkan dengan sarapan bersama dan kerja bakti kebersihan lingkungan.
- Pukul 10.00–12.00 WITA: Sesi pendampingan khusus anak-anak melalui aktivitas rekreasional, PFA, dan permainan edukatif.
- Pukul 14.00–16.00 WITA: Pendampingan rekreasional dan PFA bagi kelompok perempuan dewasa, ibu hamil, ibu menyusui, serta lansia.
- Aktivitas Keagamaan: Anak-anak muslim mengikuti kegiatan mengaji di musala darurat setelah salat Magrib, sementara anak-anak Katolik mengikuti kegiatan Sekolah Minggu pada hari Minggu.






