Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempererat kerja sama strategis dengan pemerintah Korea Selatan untuk mendongkrak keahlian tenaga kerja manufaktur nasional. Kolaborasi ini direalisasikan melalui proyek bertajuk Establishment of Human Resource Development (HRD) System for Ppuri Technology in Indonesia yang digagas bersama The Korea-Indonesia Industry and Technology Cooperation Center (KITC).
Program tersebut difokuskan pada pengembangan sumber daya manusia serta peningkatan kompetensi industri berbasis Ppuri Technology. Penguasaan teknologi fondasi manufaktur ini dinilai krusial guna memperkuat kapasitas tenaga kerja lokal dan mempercepat penguasaan teknologi industri di tanah air.
Hibah 14,69 Miliar Won dan Kemitraan Strategis
Pemerintah Korea Selatan melalui Ministry of Trade, Industry and Resources (MOTIR) telah menyetujui kucuran dana hibah sebesar KRW 14,69 miliar atau setara dengan sekitar USD 10,64 juta untuk mendanai proyek tersebut. Dana hibah ini nantinya dikelola secara resmi oleh Korea Institute for Advancement of Technology (KIAT).
Di lapangan, implementasi teknis program akan digarap oleh konsorsium yang dipimpin oleh Korea Institute of Industrial Technology (KITECH), berkolaborasi erat dengan The Korea National Ppuri Industry Center (KPIC) sebagai mitra pelaksana dari pihak Korea Selatan.
RKAB Dipangkas, Produksi Batu Bara RI Turun 8 Juta Ton/Bulan di 2026

Persiapan Implementasi Menuju 2026–2030
Pelaksanaan program pengembangan SDM industri ini dijadwalkan berlangsung selama empat tahun, terhitung mulai 2026 hingga 2030 mendatang.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, menyampaikan bahwa pihaknya kini tengah berkoordinasi secara intensif dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin. BPSDMI bertindak sebagai pelaksana program di Indonesia untuk merampungkan klausul perjanjian hibah sekaligus menetapkan lokasi pelaksanaan proyek.
Selain menyelesaikan administrasi domestik, BPSDMI terus menjalin komunikasi aktif dengan KPIC guna menyelaraskan kurikulum serta standar pelatihan yang akan diterapkan.
Garuda soal Penerapan Aturan Bagasi Baru, Kami Paham Butuh Adaptasi

Peluang Kolaborasi Industri Masa Depan
Kemitraan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan berpeluang meluas ke sejumlah sektor strategis lainnya. Direktur KITC, Ji Hyun Sung, menyatakan keterbukaan pihaknya untuk menjajaki sinergi lebih lanjut di luar Ppuri Technology.
Beberapa bidang prioritas yang menjadi fokus penjajakan berikutnya mencakup pengembangan industri hijau, program transisi energi, ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle), teknologi baterai, serta beragam sektor manufaktur prioritas lain yang menjadi perhatian utama Kemenperin.






