Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan (RIVM) melaporkan lonjakan penularan virus West Nile di Belanda setelah mendeteksi sembilan kasus baru. Tambahan tersebut membuat total infeksi pada manusia mencapai 18 kasus sepanjang tahun ini, dengan korban meninggal dunia meningkat menjadi tiga orang dari sebelumnya satu orang pada pekan lalu.
Sebaran penularan terdeteksi di enam wilayah, mencakup provinsi Utrecht, North Brabant, North Holland, South Holland, Overijssel, dan Gelderland. RIVM menyebutkan satu kasus berhasil diidentifikasi melalui studi ilmiah bank darah Sanquin Research, sedangkan pasien lain baru terkonfirmasi di rumah sakit usai menunjukkan gejala klinis. Di luar data resmi tersebut, seorang perempuan asal Drenthe juga meninggal dunia akibat virus serupa pada awal tahun, tetapi tidak dihitung ke dalam statistik nasional Belanda karena tertular saat berada di Eropa Tenggara.
Dapur Umum Ini Targetkan 21.000 Porsi bagi Warga Terdampak Gempa Flores

Virus West Nile utamanya bersarang pada burung dan menular ke manusia lewat gigitan nyamuk yang terinfeksi. Otoritas kesehatan menegaskan virus ini tidak dapat menular antarmanusia. Mayoritas pasien tidak mengalami keluhan klinis tertentu, namun kelompok lanjut usia serta individu dengan sistem imunitas rendah memiliki kerentanan tertinggi terhadap komplikasi parah. Kasus virus ini pertama kali terdeteksi di Belanda pada Agustus 2020 lewat pengujian sampel donor darah oleh Sanquin.
Polsek Karawaci Lumpuhkan Pelaku Curanmor yang Melawan saat Ditangkap

Penularan juga meluas ke populasi hewan. Otoritas Keamanan Pangan dan Produk Konsumen Belanda mencatat 53 kasus baru pada kuda, menambah akumulasi infeksi pada hewan ternak tersebut menjadi 58 kasus tahun ini. Sebanyak 39 ekor burung turut terkonfirmasi terinfeksi, yang meliputi 23 burung liar yang ditemukan mati dan 10 ekor burung yang masih hidup.






