Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (7/9/2026). Indeks saham acuan domestik ini terkoreksi tipis 8,29 poin atau 0,12% menuju level 6.628,19.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan indeks sejatinya dibuka di zona hijau pada level 6.652,09 dan sempat menyentuh level tertinggi hariannya di 6.667,75. Namun, aksi jual membuat indeks berbalik arah hingga menyentuh titik terendah di 6.620,52 sebelum mengakhiri sesi pertama.
Aktivitas transaksi sepanjang paruh pertama perdagangan mencatatkan perputaran dana sekitar Rp8,45 triliun dengan total volume perdagangan menembus 23,63 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,31 juta kali. Pergerakan saham secara keseluruhan memperlihatkan 312 saham menguat, 305 saham melemah, dan 346 saham bergerak mendatar.
Sektor Kesehatan Dominasi Calon Emiten Bursa Jelang Akhir Tahun

Saham Finansial Jadi Pemberat Indeks
Pelemahan IHSG pada sesi pertama terutama dipicu oleh tekanan jual pada deretan saham perbankan berkapitalisasi pasar besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi beban terberat dengan kontribusi penurunan sebesar 9,39 poin terhadap indeks. Koreksi ini disusul oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mengurangi 7,76 poin dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 3,47 poin.
Di sisi lain, laju koreksi indeks tertahan oleh penguatan sejumlah emiten komoditas dan energi. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memimpin penopang indeks dengan sumbangan kenaikan 5,47 poin, diikuti oleh PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 3,03 poin dan PT United Tractors Tbk (UNTR) yang menyumbang 1,81 poin.
Secara sektoral, penurunan terdalam dialami oleh sektor properti yang merosot 1,22%, disusul sektor keuangan yang tertekan 0,86%, konsumer non-primer yang terkoreksi 0,58%, serta sektor bahan baku yang turun 0,47%. Sebaliknya, sektor energi berhasil memimpin penguatan sebesar 1,45%, disusul sektor kesehatan yang naik 1,42%, utilitas 0,25%, dan konsumer primer 0,13%.
Bos Bio Farma Buka-bukaan Soal Transformasi & Pengembangan Bisnis

Perhatian Pasar terhadap Sentimen Domestik dan Global
Pelaku pasar saat ini masih mencermati sejumlah rilis data ekonomi untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada data cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, serta kinerja penjualan eceran.
Sementara itu, sentimen eksternal dibayangi oleh rilis data ekonomi China, keputusan suku bunga acuan European Central Bank (ECB), dan data inflasi Amerika Serikat. Rangkaian indikator tersebut menjadi fokus utama pelaku pasar global, seiring kembali menguatnya ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve menyusul laporan data tenaga kerja AS yang tetap solid.






