PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatatkan kinerja keuangan positif hingga Triwulan II 2026. Pertumbuhan ekspansi pembiayaan yang diimbangi dengan perbaikan kualitas aset mendorong perolehan laba bersih konsolidasi perseroan mencapai Rp31,2 triliun, atau tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Akselerasi bisnis perseroan tecermin dari total aset yang menembus Rp2.352 triliun per Triwulan II 2026, meningkat 11,7 persen yoy. Pendorong utama kenaikan aset tersebut bersumber dari penyaluran kredit yang tumbuh 16,2 persen yoy hingga mencapai Rp1.646 triliun, dengan fokus utama tetap diarahkan ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang merupakan penggerak bisnis inti perseroan.
Kesehatan Dominasi Pipeline IPO BEI, Tiga Calon Emiten Beraset Jumbo

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi menyatakan bahwa posisi likuiditas bank tetap terjaga pada level yang memadai untuk menopang ekspansi. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen yoy. Struktur pendanaan juga menunjukkan efisiensi yang lebih baik, ditandai oleh porsi dana murah (CASA) yang naik dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen.
Dari sisi intermediasi dan permodalan, rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi BRI berada pada level 90,8 persen. Di saat bersamaan, ketahanan modal perseroan tetap solid dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,5 persen pada Triwulan II 2026.
Pelita Air Tak Alihkan Flight ke Kertajati, Tunggu Bandara Soetta Buka

Kinerja operasional tersebut didukung oleh pengelolaan risiko pembiayaan yang kian ketat. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berhasil ditekan dari 3,07 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026. Penurunan risiko juga terlihat pada rasio Loan at Risk (LaR) yang melandai dari 9,6 persen pada akhir 2025 menjadi 9,1 persen pada akhir Triwulan II 2026, sejalan dengan penyusutan Cost of Credit (CoC) dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.






