Harga minyak mentah dunia kembali melesat menembus level US$96 per barel pada perdagangan Senin (7/9). Lonjakan harga energi ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang saling melancarkan serangan balasan terhadap kapal-kapal pengangkut di jalur perairan Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya.
Berdasarkan data perdagangan, kontrak minyak mentah Brent terkerek naik 52 sen atau 0,54 persen menjadi US$96,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 66 sen atau 0,72 persen ke posisi US$92,14 per barel. Kenaikan hari ini melanjutkan reli tajam sepekan sebelumnya, ketika harga Brent menguat 7,8 persen dan WTI melompat hampir 10 persen akibat terganggunya jalur distribusi energi regional.
Kekhawatiran pasar kian memuncak mengingat Selat Hormuz merupakan choke point utama dunia yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak global. Eskalasi militer kian meruncing setelah pasukan AS melancarkan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak milik Iran pada Sabtu (5/9). Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyatakan bahwa salah satu sasaran kapal berada di lepas pantai Pulau Kharg, yang menjadi fasilitas utama ekspor minyak Iran.
ADHI Karya Bukukan Kontrak Baru Naik 118% Jadi Rp8,3 Triliun

Di sisi lain, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker minyak yang dituding melintasi rute tidak resmi di Selat Hormuz, di samping menargetkan tiga kapal berbendera AS di lokasi lain. Lembaga intelijen maritim Marisks mencatat bahwa kapal tanker komersial kini secara sengaja dijadikan instrumen tekanan ekonomi timbal balik antara kedua kekuatan tersebut.
Gangguan keamanan ini memicu penurunan signifikan pada volume lalu lintas kapal. Catatan dari firma analitik Kpler menunjukkan bahwa rata-rata kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz menyusut hingga menyisakan 10 kapal per hari selama 10 hari terakhir, mencatatkan level terendah sejak Mei. Ruang gerak pelayaran diproyeksikan semakin sempit setelah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan rencana pengumuman zona terbatas di luar perairan Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Harga Emas Antam Turun Rp3 Ribu Jadi Rp2,637 Juta per Gram

Di tengah pembatasan pasokan fisik di lapangan, kelompok produsen minyak OPEC+ dalam pertemuannya pada Minggu (6/9) memilih untuk mempertahankan kebijakan produksi untuk periode Oktober tanpa perubahan. Menyikapi situasi tersebut, analis dari ANZ memperkirakan volume ekspor minyak dari kawasan ini masih akan tertahan di sisa tahun 2026, sebelum berangsur pulih secara bertahap menjelang akhir kuartal IV 2026.






