Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada awal perdagangan pekan ini, Senin (7/9/2026). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda tercatat terapresiasi sebesar 0,11% dan menempati posisi Rp17.610 per dolar AS saat pasar dibuka.
Penguatan pada awal pekan ini melanjutkan tren positif yang telah dicatatkan pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026). Pada akhir pekan lalu, rupiah ditutup menguat 0,11% ke level Rp17.630 per dolar AS. Capaian tersebut sekaligus menandai posisi penutupan terkuat mata uang Indonesia sejak 21 Mei 2026.
Pelemahan Dolar AS dan Sentimen Global
Kinerja positif rupiah sejalan dengan pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang terpantau bergerak melemah. Indeks yang mengukur kekuatan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut turun tipis 0,03% ke level 99,143 pada pukul 09.00 WIB. Pelemahan ini merupakan bentuk koreksi setelah DXY sempat mencatatkan penguatan sebesar 0,27% pada perdagangan Jumat sebelumnya.
Bursa Asia Dibuka Menguat, Investor Pantau Eskalasi Konflik AS-Iran

Mata uang AS masih menghadapi tekanan akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi utang pemerintah AS yang terus membengkak serta ketidakpastian arah kebijakan di Negeri Paman Sam. Di sisi lain, rilis laporan data ketenagakerjaan AS pada Jumat lalu sempat memberi dorongan sesaat kepada greenback dan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada September menjadi sekitar 57%. Kendati demikian, perhatian pelaku pasar kini mulai beralih menantikan rilis data inflasi AS yang dijadwalkan keluar pada Jumat mendatang.
Menanti Rilis Cadangan Devisa Bank Indonesia
Dari dalam negeri, sentimen pasar tertuju pada agenda rilis data cadangan devisa Indonesia periode Agustus 2026. Bank Indonesia (BI) dijadwalkan mengumumkan laporan posisi cadangan devisa tersebut pada pukul 10.00 WIB hari ini.
Intip 5 Rekomendasi Saham yang Potensi Kasih Cuan Hari Ini

Sebagai gambaran perkembangan sebelumnya, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tercatat sebesar US$145,3 miliar, bergerak relatif stabil bila dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2026 yang sebesar US$145,6 miliar. Posisi cadangan devisa per akhir Juli tersebut dinilai memadai karena setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor beserta pembayaran utang luar negeri pemerintah.






