Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup turun 0,47% ke posisi 6.636,48 pada perdagangan Jumat (4/9). Pelemahan tersebut diiringi aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing sebesar Rp317,07 miliar di pasar reguler, atau mencapai Rp29,76 miliar di seluruh pasar.
Dari total 11 sektor di bursa domestik, sebanyak delapan sektor berakhir di zona merah. Sektor Transportasi dan Logistik mengalami koreksi terdalam hingga 1,09%, sedangkan sektor Energi memimpin penguatan tipis sebesar 0,22%. Pasar saham global turut memberikan sentimen negatif, menyusul pelemahan bursa Amerika Serikat di mana Dow Jones turun 0,51% ke 53.414, S&P 500 terkoreksi 0,38% ke 7.718, dan Nasdaq melemah 0,29% ke 26.506. Di pasar luar negeri, indeks offshore Indonesia juga tertekan dengan penurunan ETF EIDO sebesar 1,20% dan indeks MSCI Indonesia sebesar 1%.
Di tengah dinamika pasar tersebut, sejumlah pergerakan saham dan agenda aksi korporasi menjadi fokus perhatian investor hari ini.
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.610 per Dolar AS pada Awal Pekan

Pergerakan Saham dan Aksi Korporasi Pilihan
1. PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO) Saham NATO mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 24,63% pada penutupan perdagangan Jumat lalu, memimpin jajaran saham dengan kenaikan tajam di pasar reguler.
2. PT Timah Tbk (TINS) Di sektor komoditas logam, saham TINS berhasil menguat 8,07%. Penguatan ini sejalan dengan bertahannya sektor energi dan mineral di tengah pelemahan indeks acuan.
3. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) Saham IMPC turut mencetak penguatan 6,76% pada akhir pekan lalu, menjadikannya salah satu saham yang bergerak positif melawan tren pelemahan IHSG.
4. PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) Bank BTPN Syariah mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham dengan alokasi dana maksimal Rp1 triliun yang seluruhnya bersumber dari ekuitas perseroan. Jumlah saham yang dibeli kembali ditargetkan maksimal 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Berdasarkan proforma laporan keuangan per 30 Juni 2026, aksi korporasi ini diperkirakan memangkas total aset BTPS dari Rp23,30 triliun menjadi Rp22,30 triliun, serta ekuitas dari Rp10,26 triliun menjadi Rp9,26 triliun. Laba tahun berjalan diproyeksikan terkoreksi dari Rp655,49 miliar menjadi Rp650,16 miliar akibat biaya transaksi, namun laba per saham (EPS) secara proforma justru meningkat dari Rp85,09 menjadi Rp94,54. Rencana ini menanti restu RUPSLB pada 13 Oktober 2026 dengan periode pelaksanaan maksimal 12 bulan terhitung sejak 14 Oktober 2026.
5. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) Emiten pelayaran ini membukukan lonjakan laba bersih semester I-2026 hingga 739% secara tahunan (YoY) menjadi US$58,41 juta, dibandingkan US$6,96 juta pada semester I-2025. Pendapatan BULL melesat 84% menjadi US$128,73 juta, ditopang kenaikan pendapatan freight menjadi US$126,32 juta dan pendapatan segmen gas sebesar US$6,41 juta.
Laba kotor perseroan tercatat naik 243% menjadi US$66,05 juta, mendongkrak margin laba kotor dari 27,5% menjadi 51,3%. Saat ini BULL tengah memperkuat bisnis liquefied natural gas (LNG) melalui penambahan armada serta menjajaki opsi rights issue untuk mendukung ekspansi.
Bursa Asia Dibuka Menguat, Investor Pantau Eskalasi Konflik AS-Iran

Selain kelima emiten tersebut, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) juga tengah mempersiapkan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement) sebanyak-banyaknya 271,51 juta saham baru atau 10% dari modal disetor. Aksi korporasi dengan potensi raihan dana Rp1,63 triliun ini dijadwalkan meminta persetujuan pemegang saham independen dalam RUPSLB pada 8 September 2026.






