Kenaikan harga minyak mentah dunia kian tak terbendung seiring meluasnya eskalasi konflik militer di kawasan Teluk Persia. Minyak mentah Brent berjangka yang menjadi acuan global menguat 2,9 persen dan menembus US$ 108,75 per barel. Lonjakan serupa terjadi pada komoditas West Texas Intermediate (WTI) yang melesat 4,4 persen hingga bertengger di posisi US$ 105,83 per barel.
Kenaikan pada sesi perdagangan terakhir ini mempertegas reli harga komoditas energi, yang secara keseluruhan telah melonjak lebih dari 20 persen hanya dalam kurun satu bulan terakhir.
Gangguan Distribusi Jalur Pipa dan Selat Hormuz
Pemicu utama lonjakan harga kali ini berakar dari ancaman nyata terhadap rantai pasok minyak mentah Arab Saudi. Milisi Houthi dilaporkan meluncurkan serangan drone dan rudal balistik yang menyasar sejumlah kota, yakni Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Serangan pesawat nirawak tersebut memaksa penutupan pipa transmisi Timur-Barat (East-West pipeline).
Jalur pipa berkapasitas angkut hingga 7 juta barel per hari tersebut memegang peran sangat vital karena menjadi rute ekspor utama Arab Saudi setelah penutupan Selat Hormuz. Dampak dari penutupan pipa ini langsung merembet ke pasar internasional; Riyadh telah mengumumkan pembatalan sebagian pengiriman minyak mentah kepada para pembeli di Eropa untuk jadwal September.
Gaji PNS Mau Dipindah ke Bank Negara, Apakah BPD Mampu Bertahan?

Tekanan pada jalur distribusi laut juga kian mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan insiden Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), setidaknya dua kapal tanker telah menjadi sasaran serangan di kawasan Selat Hormuz sejak Sabtu (12/9). Ketidakpastian pasokan global bertambah setelah perusahaan minyak nasional Libya terpaksa menghentikan operasional dua ladang minyak serta satu stasiun pompa akibat aksi protes massa di negara tersebut.
Perbedaan Pandangan terhadap Risiko Pasokan
Menanggapi penghentian aliran minyak, pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa penutupan jalur pipa East-West diambil sebagai langkah pencegahan guna memastikan keselamatan fasilitas energi mereka.
Dari sisi konsumen utama, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright berusaha meredam kekhawatiran pasar global. Dalam keterangannya kepada CNBC, Wright menilai hambatan pada pipa transmisi tersebut tidak akan berlangsung lama. "Ini akan menjadi gangguan singkat dan sementara," ujarnya.
Kementan Ungkap 25 Merek Beras Fortifikasi Abal-abal, Diduga Rugikan Konsumen hingga Rp 89 Triliun

Kendati demikian, kalangan analis pasar modal memandang situasi ini jauh lebih kritis. Ahli strategi komoditas senior Goldman Sachs, Yulia Zhestkova Grigsby, memperingatkan bahwa serangan langsung terhadap infrastruktur energi telah mengubah kalkulasi risiko pasar.
"Serangan terhadap infrastruktur minyak menandai eskalasi konflik yang signifikan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya skenario kenaikan harga, di mana harga minyak Brent melampaui US$ 120 per barel," ungkap Zhestkova Grigsby.






