Harga cabai rawit merah di pasar nasional melonjak tajam hingga menembus angka Rp 90.050 per kilogram (kg), mencatatkan kenaikan harian sebesar 7,2 persen. Lonjakan ini memperlihatkan pembalikan tren harga pangan pedas setelah sempat mengalami penurunan signifikan pada awal tahun.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, komoditas cabai merah keriting juga mencatatkan kenaikan paling tajam sebesar 9 persen ke posisi Rp 62.950 per kg. Kondisi ini kontras dengan situasi pada April 2026 lalu, saat tekanan harga pangan mereda pasca-Ramadan dan Idulfitri, di mana cabai rawit bahkan menjadi salah satu komoditas penyumbang deflasi pangan (volatile food).
Pemicu Tekanan Pasokan dan Cuaca
Kenaikan harga yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh sejumlah kendala di tingkat hulu. Dalam rapat koordinasi Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama petani cabai pada 26 Agustus 2026, terungkap bahwa fluktuasi harga dipicu oleh kemarau berkepanjangan, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul, hingga keputusan sejumlah petani yang beralih tanam ke komoditas lain.
Jalur Pipa Saudi Ditutup, Harga Minyak Dunia Tembus US$107

Meski menghadapi kendala di lapangan, potensi produksi cabai rawit secara nasional pada September diperkirakan berada di kisaran 119 ribu ton. Luas pertanaman aktif (standing crop) di Jawa Timur saat ini tercatat sekitar 1.486 hektare di Banyuwangi dan 1.691 hektare di Sampang. Selain wilayah tersebut, pasokan di Pulau Jawa masih bertumpu pada sentra produksi seperti Temanggung, Brebes, dan Magelang.
Intervensi Distribusi Antardaerah
Merespons dinamika harga dan pasokan, terutama informasi pergerakan dari Kediri, Bapanas bersama Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan langkah mobilisasi stok dari daerah surplus ke wilayah defisit melalui skema Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
Desil 1 Jakarta Belum Tentu Sama dengan Desil 1 Papua, Ini Penjelasan BPS

Intervensi logistik serupa sebelumnya dijalankan pada triwulan pertama 2026 dengan total penyaluran 5.590 kg cabai rawit. Distribusi tersebut mencakup pengiriman 3.150 kg dari Enrekang, Sulawesi Selatan, ke Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta, serta pasokan ke Lombok Tengah sebesar 1.140 kg dan Lombok Timur sebanyak 1.300 kg di Nusa Tenggara Barat.






