Pemanfaatan platform lokapasar terbukti membuka peluang ekspansi bagi usaha mikro di Indonesia. Keberhasilan ini tercermin dari perjalanan usaha kuliner Cireng Asik asal Depok serta perajin aksesori Temali, yang berhasil memperluas jangkauan distribusi antarpulau dan meningkatkan omzet harian setelah beralih ke saluran penjualan digital.
Usaha Cireng Asik dirintis oleh Ika Safitri (27) bersama suaminya, Harun, pada 2024. Setelah suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), pasangan ini memulai usaha dengan modal awal Rp2 juta dengan berjualan cireng isi di depan sekolah di Jalan Merdeka, Kota Depok. Menjual cireng seharga Rp1.000 per buah dengan isian ayam original, ayam pedas, daging cincang, sosis, hingga keju, penjualan fisik mereka awalnya berkisar 200 buah hingga bertumbuh menjadi 500 buah per hari dengan omzet sekitar Rp400 ribu per hari.
Untuk memperluas skala bisnis, Ika merambah penjualan daring melalui Shopee dengan mengusung jenama Cireng Asik. Guna menjaga ketahanan makanan beku saat pengiriman, produk digoreng setengah matang dan dikemas menggunakan teknik vakum udara. Pengiriman saat ini difokuskan ke wilayah Sumatera Selatan, Lampung, Pulau Jawa, dan Bali. Lewat integrasi daring, omzet harian usaha tersebut meningkat menjadi kisaran Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per hari, dengan porsi penjualan lokapasar menyumbang sekitar 60 persen dari total transaksi.
Ekonom Sebut Tak Mudah Bikin Rupiah Menguat ke Depan

Jalur serupa ditempuh Dinda (25), pendiri merek gelang buatan tangan Temali. Merintis usaha di Shopee sejak 2019 pada usia 18 tahun, ia menawarkan aneka gelang dengan rentang harga Rp45.000 hingga Rp155.000. Akses ke lokapasar memungkinkannya menjangkau konsumen lintas wilayah, meliputi Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku.
Perkembangan usaha kecil di kanal digital ini sejalan dengan tren adopsi perdagangan elektronik nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 4,40 juta usaha e-commerce di Indonesia pada 2024, naik 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total tersebut, sebanyak 97,38 persen merupakan usaha mikro. Nilai transaksi e-commerce nasional pada 2024 tercatat mencapai Rp1.288,93 triliun, tumbuh 17,08 persen secara tahunan. BPS juga mencatat 17,23 persen usaha e-commerce menggunakan lokapasar sebagai saluran penjualan, menyumbang transaksi sekitar Rp203,58 triliun atau 15,79 persen dari total nilai transaksi daring.
Apa Fungsi Sensus Ekonomi? Begini Penjelasan BPS

Dalam peta persaingan lokapasar di Indonesia, laporan Ecommerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works menunjukkan Shopee memimpin pangsa pasar dengan menguasai 54 persen GMV e-commerce Indonesia sepanjang 2025 dari total nilai transaksi sekitar US$57,7 miliar. Posisi tersebut diikuti oleh Tokopedia-TikTok Shop sebesar 38 persen, Lazada 6 persen, dan Blibli 3 persen. Pada Juni 2025, Shopee membukukan sekitar 126 juta kunjungan di Indonesia berbanding 62,8 juta kunjungan milik Tokopedia.
Upaya penguatan pelaku usaha domestik di ranah digital turut didorong melalui sinergi antara platform dan pemerintah, salah satunya lewat Program Akselerasi Produk Lokal yang diluncurkan Shopee bersama Kementerian Perdagangan. Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang, menyampaikan bahwa inisiatif tersebut bertujuan memperluas akses pasar serta meningkatkan daya saing UMKM lokal agar terus bertumbuh.






