Aster, perusahaan afiliasi milik konglomerat Prajogo Pangestu, resmi berekspansi ke pasar bahan bakar penerbangan regional setelah mengakuisisi saham Changi Airport Fuel Hydrant Installation di Singapura. Lewat kesepakatan ini, Aster kini bergabung dengan jajaran entitas energi yang menyalurkan avtur secara langsung kepada maskapai penerbangan internasional di Bandara Changi.
Langkah tersebut menandai lompatan strategis bagi lini bisnis energi grup tersebut. Jika sebelumnya operasional berfokus pada pengolahan petrokimia dan infrastruktur kilang, akuisisi fasilitas hidran bandara ini membuka akses langsung ke rantai distribusi hilir avtur di salah satu pusat penerbangan tersibuk dunia.
Deputy CEO Aster Andre Khor menyampaikan bahwa investasi di Bandara Changi akan disinergikan dengan infrastruktur yang telah dimiliki perusahaan. Menurutnya, aset baru ini bakal diintegrasikan dengan aktivitas penyulingan, fasilitas penyimpanan, serta kapabilitas pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF).
Mengenal Desil 9 dan 10, Kelompok Warga RI Dilarang Beli Pertalite

Pihak Aster tidak mengumumkan nilai transaksi akuisisi saham tersebut. Rampungnya kesepakatan ini juga masih bergantung pada persetujuan regulator terkait serta pemenuhan sejumlah persyaratan administratif lainnya.
Struktur Kepemilikan dan Ekspansi Regional
Aster merupakan entitas bisnis yang dimiliki bersama oleh Chandra Asri Group dan Glencore. Kemitraan strategis kedua korporasi ini menguat sejak 2025, saat mereka mengakuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura melalui perusahaan patungan CAPGC Pte. Ltd.
KemenUMKM, Legalitas Usaha Kunci Akses Pembiayaan Formal UMKM

Dalam struktur usaha patungan tersebut, CAPGC Pte. Ltd. mayoritas dimiliki sekaligus dioperasikan oleh Chandra Asri Group, sedangkan Glencore memegang porsi saham minoritas. Transaksi SECP diselesaikan lewat pembelian saham Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (Aster) dari Shell Singapore Pte. Ltd.
Keterkaitan bisnis ini berhulu ke pasar modal Indonesia, di mana PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memiliki 34,63 persen saham di PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Prajogo Pangestu sendiri memegang kendali langsung sebesar 71,37 persen atas saham BRPT. Berdasarkan data Forbes, konglomerat pendiri Barito Group tersebut mencatatkan kekayaan bersih sebesar US$17,2 miliar.






