Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji memuji pemikiran salah satu ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, yang dinilainya tidak lekang oleh zaman. Sarmuji menegaskan gagasan Mbah Wahab masih sangat relevan diterapkan untuk menjawab berbagai tantangan pada era saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Sarmuji dalam agenda bedah buku "Penyirep Gemuruh" karya KH Abdul Wahab Chasbullah di Masjid Gedang Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian untuk menyemarakkan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Dalam forum tersebut, Sarmuji menjelaskan bahwa kitab "Penyirep Gemuruh" menggambarkan karakter dan metode penyelesaian masalah ala NU yang mengedepankan musyawarah serta prinsip moderasi. Melalui buku itu, Mbah Wahab tercatat berhasil meredam konflik terkait rencana perluasan Masjid Peneleh di Surabaya鈥攎asjid yang memiliki keterkaitan historis dengan Sunan Ampel鈥攄engan memegang teguh empat pilar utama NU: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (adil).
Syarat Bencana Nasional Diubah MK, Ini Indikatornya

Keteladanan Mbah Wahab terlihat dari keterbukaannya dalam menampung berbagai sudut pandang. Sarmuji memaparkan bahwa Mbah Wahab tidak hanya merujuk pada pertimbangan para ahli fikih, tetapi juga mendengarkan masukan dari berbagai pihak lain yang memiliki keahlian khusus di bidangnya.
Penerjemah sekaligus penulis kitab "Penyirep Gemuruh", Fathul H Panatapraja, menambahkan bahwa proses penanganan sengketa yang dilakukan Mbah Wahab memadukan pendekatan dialog dan ketetapan hukum Islam. Penyelesaian masalah dalam buku tersebut berakar kuat pada pencarian jalan keluar melalui koridor fikih demi mencapai kemaslahatan bersama.
Narasumber lain dari Komunitas Pegon Banyuwangi, Ayung Notonegoro, menceritakan proses penemuan naskah kuno tersebut. Kitab "Penyirep Gemuruh" ditemukan saat dirinya menjalankan riset sejarah NU atas penugasan dari PCNU Banyuwangi sekitar kurun waktu 2016 atau 2018.
Wamendagri Minta DPRD Tingkatkan Kapasitas dan Pengawasan Pemda

Naskah tersebut tersimpan di Pesantren Lateng, Banyuwangi, di dalam dua lemari milik Kiai Saleh yang sempat tergembok selama belasan tahun. Lemari itu sebelumnya tidak dibuka akibat cerita yang beredar di masyarakat sekitar bahwa membukanya dapat mendatangkan hal buruk. Setelah membangun komunikasi dan mendapat izin dari pihak ahli waris, lemari dibuka hingga ditemukan sejumlah naskah berharga, termasuk karya Mbah Wahab tersebut.
Ayung mengungkapkan bahwa naskah serupa sebenarnya juga sempat tersimpan di kantor PCNU Surabaya di Jalan Bubutan, namun saat itu belum mendapat perhatian luas. Keberadaan naskah ini mulai dikenal publik setelah Komunitas Pegon mempublikasikan dan mengkaji temuannya tersebut.






