Komisi XI DPR RI resmi menyetujui penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Perry Warjiyo yang telah mundur dari pucuk pimpinan bank sentral sejak Juli lalu. Di tengah pergantian kepemimpinan tersebut, tantangan stabilitas nilai tukar dinilai masih membayangi perekonomian nasional.
Ekonom Senior Didik J Rachbini memprediksi pergerakan rupiah tidak akan menguat secara signifikan dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Menurutnya, upaya memperkuat mata uang garuda di masa depan menghadapi sejumlah rintangan struktural dan kebijakan.
Didik menilai penerapan rezim suku bunga tinggi memang memiliki potensi untuk menarik aliran modal asing karena menawarkan imbal hasil aset yang lebih besar bagi investor. Namun, langkah ini membawa konsekuensi tersendiri bagi perekonomian dalam negeri.
Naik-Turun KRL Tak Bisa dari Stasiun Karet Mulai Besok, Dialihkan ke BNI City

Tingginya biaya transaksi di Indonesia yang diiringi carut-marut persoalan hukum, situasi sosial politik, serta kerumitan kebijakan dinilai memberi tekanan balik. Suku bunga tinggi tersebut berisiko memberikan dampak negatif terhadap aktivitas dunia usaha, penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR), dan laju investasi domestik.
Di sisi lain, struktur pasar domestik turut memengaruhi orientasi perdagangan. Dengan jumlah populasi mencapai 293 juta jiwa serta basis kelas menengah yang besar dan pasar yang luas, para pelaku usaha dalam negeri cenderung dapat bertumbuh tanpa harus merambah pasar ekspor ke luar negeri.
Ketergantungan penerimaan valuta asing juga masih tertumpu pada komoditas mentah maupun setengah jadi, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel. Meski sektor-sektor tersebut menyumbang devisa dalam jumlah besar, penerimaannya sangat rentan karena bergantung pada tren kenaikan harga di pasar global.
Asing Net Buy Sepekan Lalu, Uang Mengalir Deras ke Saham Ini

Kondisi ini tecermin dari posisi cadangan devisa Indonesia yang tercatat sekitar US$ 145,3 miliar pada akhir Juli 2026. Jumlah tersebut masih berada di bawah sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai perbandingan, cadangan devisa Singapura tercatat mencapai US$ 426,2 miliar. Sementara itu, Thailand mengantongi cadangan devisa sekitar US$ 279,2 miliar atau dua kali lipat dari milik Indonesia, dan Malaysia tercatat memiliki cadangan devisa sebesar US$ 132,6 miliar.






