Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja, mendesak pemerintah mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Asosiasi maskapai nasional tersebut mengeluhkan kabut asap pekat yang mulai mengacaukan jadwal penerbangan, mengancam keselamatan armada, hingga memicu lonjakan beban biaya operasional maskapai.
Menurut INACA, lambatnya penanganan titik api tidak hanya mengancam kelancaran konektivitas transportasi udara antarwilayah, tetapi juga memberikan efek domino yang merugikan industri penerbangan secara sistemik.
Bagaimana Kabut Asap Memicu Keterlambatan dan Efek Domino Penerbangan?
Secara operasional, partikel kabut asap karhutla membatasi jarak pandang (visibility) pilot di area pendekatan maupun landasan pacu bandara. Ketika jarak pandang merosot drastis di bawah standar aman pendaratan, pesawat terpaksa melakukan prosedur berputar di udara (holding) untuk menunggu cuaca membaik.
Utang Whoosh Dialihkan ke Kemenkeu 15 September

Jika kabut asap tak kunjung menipis, maskapai terpaksa melakukan pengalihan pendaratan (flight diversion) ke bandara alternatif terdekat atau membatalkan penerbangan sepenuhnya.
Kondisi ini juga mengubah pola kendali lalu lintas udara. Petugas Air Traffic Control (ATC) wajib memperlebar jarak pemisahan (separation distance) antarpesawat saat lepas landas maupun mendarat demi keselamatan. Penambahan jarak antrean ini secara langsung memperlambat ritme operasional bandara. Keterlambatan di satu bandara yang terdampak karhutla pada akhirnya memicu efek berantai keterlambatan di bandara-bandara lain dalam rotasi rute harian maskapai.
Mengapa Asap Karhutla Membahayakan Mesin Pesawat?
Di luar urusan jadwal, partikel padat seperti jelaga dan abu sisa pembakaran hutan menghadirkan risiko teknis bagi keselamatan armada:
BEI Bicara Dampak Karhutla ke Lantai Bursa dan Pasokan Unit Karbon

- Penyumbatan tabung pitot-static: Partikel mikroskopis dari asap dapat menyumbat sensor tabung pitot-static yang sensitif, komponen krusial pembaca kecepatan udara dan ketinggian pesawat.
- Kontaminasi filter turbin: Asap tebal mengotori filter udara pada sistem turbin mesin pesawat.
- Keausan komponen internal: Abu dan jelaga yang terus-menerus terisap masuk ke dalam ruang bakar dapat mempercepat ausnya komponen mekanis internal mesin jet.
Komponen Apa Saja yang Mendorong Lonjakan Biaya Operasional Maskapai?
Kekacauan operasional akibat kabut asap berimbas langsung pada neraca keuangan maskapai penerbangan. Beban pengeluaran tambahan muncul dari berbagai pos, antara lain:
- Konsumsi bahan bakar ekstra: Pesawat yang harus berputar (holding) di udara sebelum mendarat membakar avtur jauh lebih banyak dari alokasi normal.
- Kompensasi penumpang: Keterlambatan berjam-jam mewajibkan maskapai menanggung biaya kompensasi penundaan sesuai ketentuan layanan konsumen.
- Pengembalian dana (refund) tiket: Pembatalan jadwal memaksa maskapai mengembalikan dana tiket kepada calon penumpang.
- Kekacauan rotasi kru dan pesawat: Penundaan dan pengalihan rute mengacaukan jadwal rotasi awak pesawat (flight crew scheduling), yang berujung pada biaya penyesuaian operasional di darat.
Di Mana Saja Bandara yang Terdampak Kabut Asap Karhutla?
INACA mencatat gangguan operasional akibat karhutla telah terjadi di berbagai simpul transportasi udara di Pulau Kalimantan, Sumatera, hingga Papua:
- Bandara Supadio (Pontianak) dan Bandara Singkawang, Kalimantan Barat: Jarak pandang yang merosot di bawah 1.000 meter mengakibatkan lebih dari 21 penerbangan mengalami keterlambatan, pengalihan, hingga pembatalan.
- Bandara Syamsuddin Noor (Banjarbaru), Kalimantan Selatan: Jarak pandang anjlok hingga hanya 200 meter, yang langsung memicu penundaan sejumlah penerbangan.
- Bandara Sultan Thaha Saifuddin (Jambi): Jarak pandang turun menjadi 800 meter, memaksa pesawat melakukan holding dan pengalihan pendaratan.
- Bandara Iskandar (Pangkalan Bun), Kalimantan Tengah: Asap tebal memicu gangguan jadwal dan keterlambatan beberapa penerbangan.
- Bandara Douw Aturure (Nabire), Papua Tengah: Operasional ruang udara di sekitarnya terganggu, berujung pada keterlambatan jadwal terbang armada.






