Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan penerapan bahan bakar nabati B50 mampu menekan impor solar secara signifikan sekaligus memperkuat cadangan devisa negara sepanjang 2026. Melalui asumsi konsumsi tahunan sekitar 18 juta kiloliter (KL), pengurangan impor minyak solar diperkirakan mencapai kisaran 310 ribu barel per hari (bph).
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiyani Dewi, menyampaikan proyeksi tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI pada Selasa (8/9). Angka penurunan impor sebesar 310 ribu bph itu tercatat mendekati separuh dari target lifting minyak nasional yang dipatok di level 610 ribu bph.
Menurut Eniya, penghentian kebutuhan impor solar memberikan dampak langsung pada neraca devisa nasional. Dengan ditiadakannya belanja impor komoditas tersebut, potensi penghematan sekaligus penambahan devisa negara ditaksir menyentuh angka Rp170 triliun pada 2026.
Oktober 2026, Bank Mandiri Siap Bagikan Dividen Interim Rp6,16 Triliun

Realisasi Penyaluran dan Masa Transisi
Program pencampuran bahan bakar nabati 50 persen atau B50 resmi bergulir sejak 1 Juli 2026. Berdasarkan data per 7 September 2026, total penyaluran biodiesel secara kumulatif telah mencapai 10,69 juta KL.
Dari total volume tersebut, sekitar 7,273 juta KL merupakan pasokan B40 yang didistribusikan sejak awal Januari hingga masa peralihan. Sementara itu, penyaluran B50 yang dimulai pada Juli telah mencatatkan volume sekitar 3,4 juta KL.
6 Gunung Erupsi, Pemerintah Pantau Dampaknya ke Ekonomi dan Logistik

Di tingkat rantai pasok hilir, data dari Patra Niaga menunjukkan sekitar 6.050 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) telah menyalurkan B50 kepada masyarakat, sedangkan 362 SPBU lainnya masih menyelesaikan tahap peralihan dari B40. Dari sisi infrastruktur logistik, sebanyak 76 dari 104 titik serah telah mendistribusikan B50, menyisakan 28 titik yang masih memproses penyesuaian sarana fasilitas.
Pemerintah memberikan masa relaksasi operasional bagi penyedia bahan bakar untuk menguras sisa stok B40 di tangki penyimpanan. Masa toleransi penyelesaian stok B40 tersebut dijadwalkan berakhir pada 30 September 2026.






