Kawasan perbatasan antara Israel dan Libanon selatan terus menjadi titik pusat ketegangan militer yang kompleks. Salah satu insiden paling signifikan baru-baru ini adalah operasi penghancuran skala besar oleh militer Israel di wilayah Beaufort. Dalam langkah taktis tersebut, pasukan Israel menggunakan sekitar 700 ton bahan peledak untuk meruntuhkan sebuah jaringan terowongan bawah tanah. Fasilitas yang dihancurkan ini diklaim sebagai infrastruktur milik kelompok Hizbullah. Peristiwa ini menyoroti betapa rentannya situasi keamanan di kawasan tersebut, sekaligus memicu pertanyaan mengenai efektivitas kesepakatan penghentian permusuhan yang ada.
Berdasarkan pernyataan bersama yang disampaikan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz, infrastruktur bawah tanah di Beaufort memiliki nilai strategis yang tinggi. Pihak Israel mengklaim bahwa terowongan tersebut merupakan bagian integral dari rencana Hizbullah untuk melancarkan invasi ke pemukiman penduduk di wilayah Israel utara. Operasi militer ini dilaporkan sebagai respons atas tindakan yang digambarkan Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata pada hari sebelumnya. Meski demikian, otoritas Israel tidak membeberkan rincian lebih lanjut mengenai bentuk pelanggaran spesifik yang dimaksud. Di sisi lain, pihak Hizbullah belum memberikan komentar atau tanggapan resmi mengenai penghancuran terowongan maupun tuduhan pelanggaran tersebut.
Menghadapi situasi ini, pemerintah Israel menegaskan sikap keras mereka terhadap setiap ancaman keamanan. Netanyahu dan Katz menyatakan bahwa Israel tidak akan menerima pelanggaran apa pun terhadap kesepakatan gencatan senjata. Keduanya juga memperingatkan bahwa setiap upaya yang berpotensi membahayakan pasukan militer maupun warga sipil Israel akan dibalas dengan respons yang sangat kuat dan keras. Sebagai bagian dari strategi pengamanan jangka panjang, militer Israel memutuskan untuk tetap menyiagakan pasukannya di zona keamanan Libanon selatan. Langkah ini diambil untuk terus membongkar infrastruktur yang dianggap sebagai ancaman serta mencegah upaya Hizbullah dalam memulihkan kapasitas militernya.
Klub Jalur Sutra Dibentuk di RI untuk Perkuat Hubungan Indonesia dan China

Di lapangan, pertempuran terus membawa dampak destruktif meskipun terdapat upaya pembatasan konflik. Israel memang telah menyetujui penerapan gencatan senjata parsial dengan komitmen untuk tidak menyerang ibu kota Beirut. Namun, gempuran udara dan serangan darat masih terus terjadi di wilayah Libanon selatan. Rangkaian serangan udara mematikan dari pihak Israel di kawasan tersebut dilaporkan telah menewaskan 14 orang, sebuah insiden yang langsung memicu ancaman keras dari pemerintah Iran. Sebaliknya, eskalasi pertempuran juga diwarnai oleh klaim Hizbullah yang menyatakan keberhasilan mereka dalam menghancurkan tiga unit tank milik militer Israel. Hal ini mempertegas fakta bahwa Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Libanon selatan, yang sebagian telah dikuasai selama beberapa dekade dan sebagian lainnya direbut pada periode perang tahun 2023 hingga 2024.
Konflik yang berpusat di Libanon selatan ini tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan berbagai aktor geopolitik internasional. Dari sisi diplomasi dan manuver politik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengajukan usulan agar pemerintah baru Suriah yang dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa turut membantu proses pelucutan senjata Hizbullah di Libanon. Rencana ini muncul di tengah keraguan internal di dalam pemerintahan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, otoritas baru Suriah telah mengambil langkah nyata dengan menyita pengiriman rudal jarak jauh serta pesawat nirawak yang ditujukan untuk Hizbullah di wilayah perbatasan Irak. Selain itu, dinamika pengambilan keputusan di masa lalu juga terungkap melalui rekaman dokumenter karya Alex Holder, yang menunjukkan bahwa senator Lindsey Graham pernah membujuk Donald Trump untuk menyerang Hizbullah, namun langkah tersebut dicegah oleh Benjamin Netanyahu.
Riset Ungkap Respons Konsumen terhadap Perubahan Produk Tembakau

Sementara itu, konsolidasi kekuatan di antara kelompok-kelompok perlawanan regional terus berjalan. Para pejabat Iran dilaporkan telah mengadakan pertemuan strategis dengan delegasi dari Hizbullah, Hamas, dan kelompok Houthi. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat aliansi Axis of Resistance, yang diselenggarakan di tengah masa berkabung Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah upaya diplomatik internasional, Hizbullah secara terbuka bersumpah untuk menggagalkan kesepakatan damai antara Israel dan Libanon yang sedang dimediasi oleh Amerika Serikat. Padahal, rancangan kesepakatan tersebut telah mengatur implementasi berbagai langkah strategis di dua wilayah percontohan, yang mencakup rencana penarikan mundur pasukan Israel dari kawasan konflik.






