BEIJING — Sebelum ketegangan militer meningkat saat Amerika Serikat menyerang Iran, Beijing telah menghabiskan waktu bertahun-tahun serta kucuran dana hingga puluhan miliar dolar AS untuk membangun cadangan minyak terbesar di dunia. Penimbunan komoditas energi dalam skala masif ini menempatkan Negeri Tirai Bambu pada posisi strategis di tengah dinamika pasar energi global.
Para analis memperkirakan total cadangan strategis China saat ini mencapai 1 miliar hingga 1,4 miliar barel. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan pasokan sekitar 120 hari impor. Pada tahun lalu saja, volume cadangan minyak mentah China ditaksir telah melampaui cadangan milik Amerika Serikat dengan selisih hampir 600 juta barel.
Pasokan Armada Bayangan dan Pengamanan Jalur Laut
Langkah agresif penimbunan minyak mentah ini kian dipercepat sejak tahun 2024. China menampung pasokan hingga 1,2 juta barel per hari dengan mengandalkan "armada bayangan" untuk mengangkut minyak berdiskon dari Rusia dan Iran yang tengah berada di bawah sanksi internasional.
Langkah tersebut tidak lepas dari pertimbangan kerentanan jalur logistik. Selama ini, China menggantungkan 70 persen pasokan minyak mentahnya dari impor. Mayoritas rute pelayaran impor tersebut melintasi Selat Malaka, jalur sempit yang dipandang rentan terhadap potensi pemblokiran atau sabotase oleh Amerika Serikat layaknya Selat Hormuz di kawasan Timur Tengah.
Ekonom Sebut Tak Mudah Bikin Rupiah Menguat ke Depan

Perubahan Pola Impor dan Pasokan Dalam Negeri
Cadangan yang melimpah memberi ruang bagi Beijing untuk mengatur volume pembelian internasional. Pada periode Maret hingga Juli, volume impor minyak mentah China tercatat anjlok hingga 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penggunaan cadangan minyak yang telah ditimbun menjadi faktor yang menyumbang sekitar setengah dari penurunan impor tersebut.
Kebijakan penghematan dan pengamanan pasokan dalam negeri juga berimbas langsung pada perdagangan ekspor bahan bakar olahan. Pada kuartal kedua, ekspor bensin China anjlok hingga 93 persen, pengiriman solar ke luar negeri turun seperempat, dan ekspor bahan bakar jet menyusut hingga separuhnya.
Di sisi lain, tekanan di sektor pengolahan minyak turut memengaruhi aktivitas ekonomi. Ekonom Utama Macquarie untuk China, Larry Hu, memperkirakan bahwa sekitar 90 persen dari perlambatan produksi industri negara tersebut pada kuartal kedua terkait erat dengan rantai industri minyak dan petrokimia, menyusul tingginya harga serta melemahnya permintaan pasar.
Apa Fungsi Sensus Ekonomi? Begini Penjelasan BPS

Transisi Energi dan Penurunan Ketergantungan
Strategi pengelolaan cadangan minyak mentah ini berjalan beriringan dengan pergeseran konsumsi energi domestik. China terus memperluas kapasitas energi terbarukan yang saat ini sudah memasok sekitar dua perlima dari total pembangkit listrik nasional.
Perubahan di sektor transportasi turut menekan konsumsi bahan bakar fosil harian. Separuh dari seluruh mobil baru yang terjual di China pada tahun ini merupakan kendaraan energi baru (NEV). Transisi ini mengubah mobilitas masyarakat, di mana volume lalu lintas jalan raya terpantau turun 2 persen, sedangkan pergerakan penumpang kereta api naik sebesar 4 persen.






