Terminal LPG Tanjung Sekong merupakan salah satu infrastruktur strategis yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) untuk memegang peranan krusial dalam menjaga ketahanan energi nasional. Sebagai infrastruktur penting yang secara resmi berstatus sebagai Objek Vital Nasional, terminal ini memiliki kemampuan luar biasa untuk memasok sekitar 35 persen hingga 40 persen dari total kebutuhan LPG secara nasional di Indonesia. Untuk memahami bagaimana fasilitas energi ini bekerja secara optimal dalam menjaga ketersediaan bahan bakar bagi masyarakat luas, terdapat beberapa tahapan dan aspek operasional penting yang secara konsisten dijalankan oleh Pertamina.
Langkah pertama dalam memahami peran krusial terminal ini adalah dengan melihat luasnya cakupan area distribusi yang harus dilayani setiap harinya. Terminal LPG Tanjung Sekong memikul tanggung jawab besar untuk menyalurkan energi ke berbagai wilayah padat penduduk. Pasokan bahan bakar dari terminal ini menjangkau hingga 63 kabupaten dan kota yang tersebar luas di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, sampai ke Sumatera Selatan. Pengelolaan distribusi yang masif ini menjadikannya tulang punggung utama bagi ketersediaan bahan bakar, yang sangat dibutuhkan oleh berbagai lapisan masyarakat di wilayah-wilayah tersebut.
Langkah kedua berkaitan erat dengan penyediaan dan pemanfaatan infrastruktur fisik yang memadai untuk skala nasional. Berdiri tegak di atas lahan seluas 12,9 hektare, terminal ini pertama kali memulai kegiatan operasionalnya pada tahun 2012 silam. Demi meningkatkan efisiensi penyimpanan dan menjawab tantangan kebutuhan energi yang terus meningkat, fasilitas ini kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Terminal LPG Refrigerated pada tahun 2020. Saat ini, kapasitas penyimpanan maksimal yang dimiliki oleh terminal tersebut telah mencapai angka 98.000 metrik ton (MT).
Pertamina Kejar Seluruh SPBU Salurkan B50 pada Akhir September

Langkah ketiga adalah memaksimalkan fasilitas bongkar muat untuk memperlancar arus pasokan masuk dan keluar. Untuk mendukung kelancaran proses bongkar muat kapal pengangkut energi, Terminal LPG Tanjung Sekong telah dilengkapi dengan tiga buah dermaga khusus. Ketiga dermaga tersebut dirancang agar mampu menampung kapal-kapal dengan kapasitas yang bervariasi, mulai dari 3.500 DWT hingga kapal berukuran besar mencapai 65.000 DWT. Dengan spesifikasi infrastruktur laut seperti ini, terminal mampu mencatatkan throughput atau volume penyaluran yang sangat tinggi, yakni mencapai lebih dari 200.000 MT per bulan, sekaligus menobatkannya sebagai salah satu hub LPG terbesar yang ada di Indonesia.
Langkah keempat adalah memastikan seluruh proses operasional di lapangan berjalan dengan aman dan senantiasa mematuhi standar keselamatan yang berlaku. Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, meninjau secara langsung guna memastikan keandalan operasional terminal ini. Aspek-aspek operasional yang diperiksa secara saksama meliputi kelancaran proses penerimaan LPG dari kapal, sistem penyimpanan di dalam tangki, mekanisme distribusi ke berbagai daerah, hingga penerapan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE). Pengawasan ketat pada aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan ini sangat mutlak dilakukan mengingat sifat bahan bakar gas yang dikelola memiliki tingkat risiko operasional yang tinggi.
Langkah kelima yang dilakukan Pertamina untuk menjaga kelancaran dan kecepatan pasokan adalah dengan mendorong efisiensi melalui penerapan digitalisasi rantai pasok. Sistem teknologi digital mutakhir diterapkan secara menyeluruh untuk memantau pergerakan dan ketersediaan stok LPG secara real-time. Selain pemantauan stok, teknologi digitalisasi juga dimanfaatkan secara optimal untuk mengatur waktu sandar kapal di dermaga. Optimalisasi waktu sandar ini bertujuan agar proses distribusi energi tidak mengalami hambatan atau keterlambatan teknis yang pada akhirnya dapat mengganggu ketersediaan stok bahan bakar di tengah masyarakat.
RI Masuk 7 Negara Dunia yang Miliki Rencana Aksi Perikanan Skala Kecil

Langkah keenam adalah menyelaraskan seluruh kegiatan operasional dengan prinsip keberlanjutan lingkungan melalui berbagai inisiatif dekarbonisasi. Terminal LPG Tanjung Sekong saat ini mulai aktif menjajaki penggunaan sumber energi rendah emisi untuk mendukung berbagai kegiatan operasional hariannya. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan untuk berpartisipasi dalam mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas industri energi berskala besar, sekaligus mendukung transisi energi yang lebih bersih di masa mendatang.
Langkah ketujuh, sekaligus yang paling menentukan untuk memastikan pasokan energi tidak pernah terputus, adalah pemberlakuan jam operasional penuh selama 24 jam sehari. Menurut penjelasan dari VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, operasional tanpa henti ini mutlak diperlukan karena terminal tersebut merupakan salah satu tulang punggung utama dalam rantai distribusi LPG nasional. Dengan sinergi antara infrastruktur berkapasitas sangat besar, penerapan digitalisasi rantai pasok, pengawasan keselamatan yang ketat, serta jam operasional yang berkesinambungan, Pertamina berupaya memastikan seluruh kebutuhan energi masyarakat dapat terus terpenuhi dengan aman dan lancar.






