Lahan persawahan di Desa Kalijaran, Kabupaten Cilacap, mulai mengandalkan kombinasi tenaga surya dan bayu untuk memenuhi kebutuhan irigasi tanaman pangan. Pemanfaatan energi baru terbarukan ini dijalankan lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan (MAPAN) yang diinisiasi oleh Pertamina Patra Niaga.
Sistem pengairan tersebut mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan total kapasitas terpasang mencapai 15.250 Wp. Pasokan listrik dari instalasi hibrida ini digunakan untuk menggerakkan pompa yang mampu menghasilkan debit air rata-rata 150.000 liter per hari guna mengairi lahan tani.
Efisiensi Operasional dan Pengurangan Emisi
Integrasi energi surya dan angin memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional kelompok tani di wilayah tersebut. Pengalihan dari pompa berbahan bakar solar ke sistem bertenaga hibrida tercatat menghemat pengeluaran bahan bakar hingga Rp9 juta per dua siklus masa tanam. Selain memangkas ongkos produksi, operasional pembangkit bersih ini berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 2.860 kg CO鈧俥q per tahun.
Sempat Berhenti Imbas Gempa, Perjalanan KRL Kembali Normal

Secara keseluruhan, pelaksanaan Program MAPAN di Kalijaran telah menjangkau 233 penerima manfaat. Penerima manfaat tersebut mencakup petani gurem, buruh tani harian, kelompok petani perempuan, masyarakat berpenghasilan rendah, hingga kelompok anak-anak dan balita.
Keterlibatan Kelompok Tani dan Hilirisasi Produk
Keberlanjutan sistem pengairan ini ditopang oleh kerja sama sejumlah kelompok kemasyarakatan lokal, meliputi GAPOKTAN Margo Sugih, Kelompok Ternak Mintih Mulia, KWT Tandur Makmur, serta KWT Mekar Jaya Lestari.
Cerita Elsa, Penumpang yang Melihat Ibu Hirup Kamper di KRL

Selain pengelolaan air di lahan budi daya, masyarakat binaan juga mengembangkan diversifikasi hasil panen pada sektor hilir. Produk olahan yang dihasilkan mencakup beras kemasan, telur asin, keripik, hingga produk makanan pendamping air susu ibu (MPASI).
Hingga perkembangan terkini, program kolaboratif tersebut telah menggandeng delapan pemangku kepentingan, membentuk dua kelompok usaha tani baru, dan mereplikasi model penanaman hortikultura di tiga area lahan pertanian sekitar.






