Karya batik tulis buatan tangan memiliki nilai seni yang tinggi. Salah satu contoh inspiratif datang dari Muhammad Hanif Fuadi, seorang siswa berkebutuhan khusus tunarungu kelas 9B di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Purwosari, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Hanif berhasil membuat syal batik bermotif Menara Kudus dan parijoto yang diberikan langsung kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, saat kunjungan kerjanya pada hari Jumat (31/7). Bagi Anda yang ingin membuat syal batik serupa, baik untuk koleksi maupun cenderamata, ikuti panduan merancang dan membuatnya berdasarkan karya siswa berprestasi ini.
Langkah pertama dalam merancang karya ini adalah menentukan dimensi atau ukuran kain yang akan digunakan. Agar nyaman dipakai dan terlihat proporsional saat dikalungkan di leher, Anda bisa mengikuti ukuran syal batik yang dibuat oleh Hanif. Syal tersebut dirancang dengan spesifikasi panjang 150 sentimeter dan lebar 20 sentimeter. Ukuran ini cukup panjang untuk dikreasikan dalam berbagai gaya ikatan, namun tidak terlalu lebar sehingga tetap fungsional dan elegan saat dipadukan dengan pakaian formal maupun kasual.
Langkah kedua adalah menentukan motif batik yang sarat akan makna untuk digambar di atas kain. Untuk syal khas Kudus ini, gunakan kombinasi dua motif utama, yaitu Menara Kudus dan parijoto. Menurut penjelasan dari Novie Ira Meranika, Guru Kelas dan Pendamping Vokasi Batik di SLBN Purwosari, setiap motif memiliki filosofi mendalam. Motif Menara Kudus dipilih karena melambangkan nilai sejarah dan toleransi yang kuat. Sementara itu, motif parijoto disematkan sebagai perlambang harapan dan doa yang baik bagi siapa saja yang mengenakannya.
Mendikdasmen, Revitalisasi SMP Negeri 16 Medan Pascabanjir Rampung, Pembelajaran Kembali Normal

Langkah ketiga adalah menetapkan target waktu pengerjaan yang realistis untuk menyelesaikan sehelai kain batik. Membuat karya semacam ini membutuhkan ketelitian tinggi pada setiap tahapannya. Sebagai referensi, Hanif dapat menyelesaikan satu helai syal batik ini dalam waktu lima hari. Dengan bimbingan dan pendampingan yang tepat, waktu lima hari merupakan durasi yang ideal bagi seorang pembuat batik untuk menghasilkan karya yang rapi serta mendetail tanpa harus terburu-buru.
Langkah keempat adalah menyiapkan karya tersebut sebagai cenderamata pada momen yang tepat. Syal yang diserahkan Hanif kepada Mendikdasmen Abdul Mu'ti merupakan karya pertamanya yang secara khusus diberikan kepada seorang pejabat. Penyerahan dilakukan bertepatan dengan agenda Mendikdasmen di SLBN Purwosari untuk membagikan buku bermutu serta meletakkan batu pertama revitalisasi sekolah. Acara ini juga dihadiri oleh Kepala SLBN Purwosari Edi Sujito, serta Bupati Kudus Samani Intakoris yang turut mengapresiasi program revitalisasi, pembagian buku, dan penyediaan Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel.
4 WN Iran di Rudenim Pekanbaru Ditolak Final UNHCR, Tak Mau Pulang

Langkah kelima, jika Anda berencana memberikan cenderamata kepada lebih dari satu tamu kehormatan, persiapkan jumlah karya yang cukup sejak awal. Dalam kegiatan tersebut, Hanif sebenarnya membuat dua buah syal batik. Satu syal ditujukan untuk Mendikdasmen Abdul Mu'ti, dan satu syal lainnya dipersiapkan untuk Qodari selaku Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia. Meskipun pada akhirnya Qodari berhalangan hadir, mempersiapkan cenderamata cadangan atau tambahan tetap menjadi langkah antisipasi yang sangat baik dalam setiap acara.






