berputar.id
BerandaRegionalNewsHukumBeritaSosialKesejahteraan SosialEkonomiEkonomi & BisnisNasionalDuniaMetroInternasionalOtomotifKeuanganKulinerEnergiKriminalGeneral NewsEkonomi & EnergiKesehatanPariwisataGaya HidupSains & TeknologiBerita UmumBerita UtamaBerita LokalBisnisMarketEdukasiOlahragaLingkunganTeknologiPolitik & HukumBerita NasionalHiburanPerjalanan & WisataCuacaSepak BolaPolitikTravelPopuler
Beranda/Politik

Cara Indonesia Menjalankan Peran Mediator Dialog Korea Utara dan Korea Selatan

Slamet PrabowoDiterbitkan 31 Jul 2026 - 23.56 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Cara Indonesia Menjalankan Peran Mediator Dialog Korea Utara dan Korea Selatan
Foto/Ilustrasi: tempo.co.
A-A+

Indonesia terus berupaya mengambil peran aktif dalam menjaga stabilitas kawasan global melalui pendekatan diplomasi yang bebas dan aktif. Salah satu contoh nyata dari komitmen ini adalah kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan perjalanan diplomasi ke Korea Utara. Kesiapan tersebut diungkapkan langsung oleh beliau saat menyampaikan pidato di hadapan Kamar Dagang dan Industri Indonesia yang bertempat di Istana Negara, Jakarta, pada hari Jumat, 31 Juli 2026. Melalui langkah strategis ini, publik dapat mempelajari bagaimana sebuah negara memposisikan dirinya sebagai perantara dialog di tingkat internasional.

berputar.id

Copyright 2026 berputar.id - All Rights Reserved.

Kategori

RegionalNewsHukumBeritaSosialKesejahteraan SosialEkonomiEkonomi & BisnisNasionalDuniaMetroInternasionalOtomotifKeuanganKulinerEnergiKriminalGeneral NewsEkonomi & EnergiKesehatanPariwisataGaya HidupSains & TeknologiBerita UmumBerita UtamaBerita Lokal
Langkah pertama untuk memahami model diplomasi ini adalah dengan mengenali konsep negara kekuatan menengah atau yang sering disebut sebagai middle power. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan negara-negara yang bukan merupakan negara adidaya, namun memiliki kapasitas yang cukup diperhitungkan di bidang ekonomi dan militer pada tingkat menengah. Konsep kekuatan menengah inilah yang dibahas secara mendalam oleh Presiden Prabowo saat bertemu dengan Presiden
Korea Selatan
Lee Jae-myung
. Pertemuan tersebut berlangsung pada tanggal 1 April 2026 di Cheong Wa Dae, atau yang juga dikenal sebagai Blue House, di Seoul. Dalam pertemuan itu, Indonesia dan Korea Selatan diidentifikasi sebagai kekuatan menengah yang memiliki kekhawatiran serupa, di mana stabilitas dan perdamaian menjadi kebutuhan mutlak bagi kedua belah pihak.

Langkah kedua adalah konsistensi dalam menerapkan kebijakan politik luar negeri nonblok. Kebijakan nonblok ini membuat Indonesia dapat diterima dengan baik di berbagai belahan dunia, termasuk dalam upaya meredakan ketegangan di Semenanjung Korea. Menurut penjelasan Presiden Prabowo, Indonesia dipandang tidak memiliki kepentingan politik tertentu untuk mencampuri urusan dalam negeri negara mana pun. Dengan memegang teguh prinsip tidak ikut campur ini, posisi Indonesia menjadi sangat strategis dan tepercaya untuk memfasilitasi komunikasi di antara pihak-pihak yang sedang mengalami kebuntuan politik.

Baca Juga

Cara Kadin Menyikapi Dampak Geopolitik Usai Pertemuan dengan Presiden Prabowo

Cara Kadin Menyikapi Dampak Geopolitik Usai Pertemuan dengan Presiden Prabowo

Langkah ketiga dalam menjalankan peran diplomasi ini adalah membangun dan menjaga hubungan baik dengan berbagai negara tanpa memihak. Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia senantiasa menghormati semua kekuatan global, mulai dari Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Jepang, India, hingga Australia. Selain menjalin hubungan dengan negara-negara besar, Indonesia juga menjaga hubungan harmonis dengan negara tetangga seperti Papua Nugini. Meskipun terkadang muncul tantangan internal seperti isu separatis, pendekatan persahabatan dengan negara tetangga tetap menjadi prioritas utama. Hubungan yang luas dan netral ini menjadi modal penting bagi Indonesia saat diminta untuk menjadi penengah konflik.

Langkah keempat adalah merespons peluang mediasi secara taktis dan terbuka ketika ada permintaan resmi dari negara sahabat. Dalam pidatonya, Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus mantan menteri pertahanan ini menceritakan bahwa dirinya diminta langsung oleh Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung untuk mengunjungi Korea Utara guna menginisiasi jalur komunikasi. Tujuan utama dari rencana kunjungan tersebut adalah agar Indonesia bersedia menjadi perantara komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un. Menanggapi permintaan tersebut, Prabowo menyatakan kesediaan dirinya secara hormat dan rela untuk berangkat ke Korea Utara demi mendukung upaya perdamaian.

Baca Juga

Permintaan Presiden Korea Selatan kepada Prabowo untuk Menjadi Penghubung Dialog dengan Korea Utara

Permintaan Presiden Korea Selatan kepada Prabowo untuk Menjadi Penghubung Dialog dengan Korea Utara

Secara keseluruhan, panduan diplomasi luar negeri ini menunjukkan bahwa peran Indonesia sebagai mediator tidak dibangun secara instan melainkan melalui proses panjang. Dibutuhkan kesepahaman bersama mengenai posisi sebagai kekuatan menengah yang membutuhkan stabilitas, serta konsistensi dalam menjaga sikap nonblok agar tetap dipercaya oleh semua pihak. Kesediaan pemimpin negara untuk mengambil langkah konkret saat kesempatan mediasi itu hadir juga menjadi kunci keberhasilan. Melalui pendekatan yang netral, inklusif, dan berfokus pada perdamaian, Indonesia membuktikan bahwa negara tanpa status adidaya pun dapat memberikan kontribusi besar bagi stabilitas dunia dan memfasilitasi dialog di wilayah konflik.

Ikuti berputar.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Korea SelatanPrabowo SubiantoDiplomasi InternasionalKorea UtaraLee Jae-myung

Berita Terbaru Lainnya

Kinerja Keuangan dan Pertumbuhan Aset Maybank Indonesia pada Semester I 2026Perkembangan Konsolidasi Asuransi BUMN dan Rencana Pembentukan Entitas Baru IFGKehadiran Daihatsu di GIIAS 2026, Peluncuran New Sigra, Terios Edisi Terbatas, dan Mobil KonsepMenyikapi Fenomena Pemasangan Pagar Tinggi di Sejumlah Mal Berdasarkan FaktaSpesifikasi dan Harga Resmi Mobil Listrik Chery Q di IndonesiaInovasi Teknologi IoT di Rumah Pembibitan Mangrove Desa Bunton CilacapLangkah Nyata Konservasi Lingkungan untuk Menghadapi Perubahan IklimStrategi dan Panduan Penguatan Kompetensi Pranata Humas Kementerian Dalam Negeri

Paling Banyak Dibaca

Skandal Korupsi Ekspor Durian Vietnam, Wakil Menteri Ditangkap

Internasional

Skandal Korupsi Ekspor Durian Vietnam, Wakil Menteri Ditangkap

30 Jul 2026

Digitalisasi Administrasi Back Office untuk Mendukung Ekspansi Bisnis Ritel dan F&B

Ekonomi

Digitalisasi Administrasi Back Office untuk Mendukung Ekspansi Bisnis Ritel dan F&B

30 Jul 2026

Gugatan Ganti Rugi Rp206 Juta Roy Suryo atas Penahanan Tidak Sah

Hukum

Gugatan Ganti Rugi Rp206 Juta Roy Suryo atas Penahanan Tidak Sah

31 Jul 2026

Pertumbuhan Investasi Kota Batam pada Semester I 2026

Ekonomi

Pertumbuhan Investasi Kota Batam pada Semester I 2026

30 Jul 2026

Transportasi Publik Kini Jadi Kanal Strategis Promosi Pariwisata Antarnegara

Pariwisata

Transportasi Publik Kini Jadi Kanal Strategis Promosi Pariwisata Antarnegara

30 Jul 2026

Memahami Kinerja Keuangan dan Langkah Investasi CDIA pada Semester I 2026

Ekonomi

Memahami Kinerja Keuangan dan Langkah Investasi CDIA pada Semester I 2026

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Skandal Korupsi Ekspor Durian Vietnam, Wakil Menteri DitangkapInternasional 路 30 Jul 2026
  2. 2Digitalisasi Administrasi Back Office untuk Mendukung Ekspansi Bisnis Ritel dan F&BEkonomi 路 30 Jul 2026
  3. 3Gugatan Ganti Rugi Rp206 Juta Roy Suryo atas Penahanan Tidak SahHukum 路 31 Jul 2026
  4. 4Pertumbuhan Investasi Kota Batam pada Semester I 2026Ekonomi 路 30 Jul 2026
  5. 5Transportasi Publik Kini Jadi Kanal Strategis Promosi Pariwisata AntarnegaraPariwisata 路 30 Jul 2026
Bisnis
Market
Edukasi
Olahraga
Lingkungan
Teknologi
Politik & Hukum
Berita Nasional
Hiburan
Perjalanan & Wisata
Cuaca
Sepak Bola
Politik
Travel

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap