Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengejutkan pelaku pasar finansial global setelah memberi sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat masih menempatkan risiko inflasi sebagai ancaman serius. Warsh mengindikasikan The Fed berpeluang perlu berusaha lebih keras guna mengendalikan laju harga, membuka kembali peluang pengetatan moneter pada pertemuan mendatang.
Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar suku bunga. Mengacu pada data kontrak berjangka CME Group, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya melonjak ke kisaran 58 persen. Angka ini meningkat tajam dibandingkan posisi Kamis (27/8/2026) yang berada di sekitar 35 persen. Sinyal tegas ini sekaligus meredam spekulasi bahwa Warsh akan menahan kenaikan suku bunga akibat tekanan dari Presiden Donald Trump.
Reaksi spontan terlihat di pasar obligasi dan saham AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,721 persen, lebih tinggi dibandingkan posisi Kamis di level 4,671 persen. Sementara itu, yield obligasi 30 tahun tercatat berada di 5,207 persen pada penutupan Jumat (28/8/2026). Yield tenor panjang ini sebelumnya sempat menembus 5,3 persen pascarapat The Fed edisi Juli鈥攍evel tertinggi sejak 2007鈥攕ebelum akhirnya sedikit melunak setelah Menteri Keuangan Scott Bessent mengumumkan rencana pelipatgandaan program pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang.
Ekonom Sebut Tak Mudah Bikin Rupiah Menguat ke Depan

Di pasar ekuitas, bursa Wall Street bergerak melemah merespons potensi kenaikan suku bunga acuan tersebut. Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi kurang dari 0,1 persen, S&P 500 turun 0,2 persen, dan Nasdaq Composite tergelincir 0,5 persen. Pelemahan lebih dalam dialami indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 yang anjlok 1,4 persen, serta sektor industri pada indeks S&P 500 yang tertekan 1 persen. Walau tertekan, indeks S&P 500 secara keseluruhan masih bertahan sekitar 1 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masanya, ditopang stabilitas sektor teknologi berkat kinerja Nvidia yang meredakan kekhawatiran permintaan cip kecerdasan buatan.
Sikap terbaru The Fed memicu beragam evaluasi dari kalangan pengelola dana. Kepala Divisi Pendapatan Tetap Amerika di DWS, George Catrambone, mempertanyakan apakah kenaikan suku bunga benar-benar akan terealisasi saat data ekonomi terbaru masuk. Di sisi lain, Chief Investment Officer Alphastar Capital Management Tony Parish menilai pasar tidak menyukai arah ketidakpastian baru yang mengarah pada opsi pengetatan.
Apa Fungsi Sensus Ekonomi? Begini Penjelasan BPS

Pelaku pasar kini menanti rilis indikator ekonomi lanjutan menjelang rapat penentuan kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 16 September 2026.






