Perdebatan mengenai posisi bahasa asing di ruang kelas kembali mencuat di Cina setelah seorang akademisi secara terbuka mendorong agar mata pelajaran bahasa Inggris dicabut dari statusnya sebagai pelajaran inti, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga universitas.
Seruan tersebut disampaikan oleh Tang Jiafeng, profesor matematika dari Universitas Nanjing yang aktif sebagai pengajar daring, melalui platform media sosial Toutiao pada awal September. Tang menilai keberadaan bahasa Inggris sebagai kurikulum utama membebani institusi pendidikan karena menghabiskan banyak waktu dan sumber daya, sementara sebagian besar materi yang diajarkan dianggap tidak memiliki keterkaitan langsung dengan dunia kerja siswa setelah lulus.
Selain menyoroti efisiensi, Tang mengaitkan dominasi kurikulum bahasa Inggris dengan ketidakmampuan Cina melepaskan diri dari pengaruh Barat. Menurutnya, kebiasaan mengagungkan hal-hal asing harus segera dihentikan. Pernyataan tersebut muncul di tengah penyesuaian kurikulum di daerah, salah satunya oleh Departemen Pendidikan Provinsi Liaoning yang menghapus mata pelajaran sejarah, geografi, dan biologi dari penentu seleksi masuk SMA demi memangkas beban belajar peserta didik.
Trump Mulai Gerah, AS Biarkan Sekutu Jatuhkan Sanksi ke Israel

Pandangan Tang mendapat dukungan dari sebagian masyarakat yang menilai model pembelajaran di sekolah selama ini kerap gagal membuat siswa fasih berbahasa. Sebagian pendukung juga menggarisbawahi kian canggihnya teknologi penerjemahan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dinilai dapat mengurangi urgensi penguasaan bahasa secara manual.
Kritik Xenofobia dan Tren Kebijakan Pendidikan
Kendati demikian, wacana tersebut memicu bantahan keras dari tokoh media. Mantan pemimpin redaksi Global Times, Hu Xijin, mengkritik argumen Tang sebagai pandangan yang sempit dan bernuansa xenofobia. Hu menegaskan bahwa bahasa Inggris secara faktual telah memimpin laju modernisasi global selama berabad-abad. Mengaitkan restrukturisasi kurikulum dengan isu patriotisme, menurutnya, hanya akan memicu perselisihan ideologis yang kontraproduktif bagi kemajuan Cina.
Kim Jong Un Buka Keran Hiburan Korut, Ada "Misi" di Baliknya

Perdebatan ini memperpanjang rangkaian kebijakan reduksi materi asing yang digulirkan otoritas pendidikan Cina dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, Kementerian Pendidikan Cina melarang sekolah dasar dan menengah pertama menggunakan buku teks berbahasa asing. Langkah tersebut berlanjut pada 2021 saat pemerintah menurunkan bobot ujian bahasa Inggris dari mata pelajaran ujian akhir menjadi penilaian masuk SMA.
Menanggapi pergeseran arah pendidikan tersebut, mantan editor Kantor Berita Xinhua, Yuan Li, menilai langkah-langkah pembatasan itu dipengaruhi oleh menguatnya narasi propaganda nasional sejak masa pandemi Covid-19, yang berisiko perlahan mengisolasi Cina dari dunia luar.






