Pyongyang – Presiden Korea Utara Kim Jong Un mulai mendorong warganya untuk lebih aktif menikmati fasilitas hiburan dan berbelanja. Aktivitas konsumsi masyarakat kini diarahkan ke berbagai tempat publik, mulai dari kedai kopi hingga pusat perbelanjaan modern.
Perubahan pola konsumsi tersebut tercermin dari pergerakan data perdagangan luar negeri. Impor peralatan pijat dari China ke Korea Utara tercatat melonjak sekitar 40 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Pengiriman treadmill juga melesat lebih dari 600 persen, diikuti oleh masuknya instrumen piano hingga wahana permainan seperti bumper cars.
Di dalam negeri, pembangunan fasilitas rekreasi skala besar terus digenjot. Otoritas setempat membangun resor Wonsan Kalma, hotel-hotel mewah di kawasan Samjiyon, serta berbagai kompleks terpadu yang memuat restoran, perpustakaan, dan bioskop. Resor Wonsan bahkan dilaporkan telah dikunjungi lebih dari 300.000 warga domestik pada paruh kedua tahun 2025. Di ibu kota Pyongyang, pusat perbelanjaan Ryugyong Golden Plaza turut memajang aneka produk berlogo merek internasional.
RI Masuk 7 Negara Dunia yang Miliki Rencana Aksi Perikanan Skala Kecil

Penyerapan Dana Pasar Informal
Kebijakan membuka keran fasilitas hiburan dan belanja ini dinilai menyimpan tujuan strategis terkait pengendalian ekonomi. Peneliti dari Hyundai Research Institute, Kang Seong-hyeon, menjelaskan bahwa pendekatan Kim Jong Un berfungsi menarik arus modal, produksi, dan distribusi dari pasar informal ke dalam sistem ekonomi resmi yang dikendalikan negara. Pengawasan terhadap lalu lintas uang ini juga diperkuat dengan kewajiban bagi pihak perbankan dan pertokoan untuk menerima pembayaran elektronik sejak tahun 2023.
Dari perspektif demografi ekonomi, ekonom Ruediger Frank dari Universitas Wina menyoroti terbentuknya kelas menengah baru sekitar delapan juta orang di Korea Utara. Kelompok masyarakat ini memiliki simpanan dana namun sebelumnya tidak memiliki saluran resmi yang memadai untuk membelanjakannya. Meski pembukaan akses konsumsi mampu meredam tekanan masyarakat, Frank memberikan catatan kritis. "Konsumsi membeli waktu. Namun, hal itu tidak membeli kesetiaan selamanya," ungkapnya.
Trump Mulai Gerah, AS Biarkan Sekutu Jatuhkan Sanksi ke Israel

Ekonomi Korea Utara sendiri mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,5 persen pada 2025, menandai tren positif pertumbuhan di atas 3 persen selama tiga tahun berturut-turut. Arus modal yang menopang perekonomian negara tersebut dilaporkan bersumber dari sejumlah lini, termasuk aktivitas ekspor mineral, pencurian aset kripto, hingga pengerahan pasukan militer untuk menyokong Rusia dalam perang di Ukraina.






