Kelompok Houthi dilaporkan berhasil menguasai Pulau Perim dan kota pesisir Dhubab di Provinsi Taiz, Yaman barat. Pergerakan militer ini memperkuat posisi kelompok tersebut di kawasan strategis Selat Bab al-Mandab, menurut keterangan sumber militer pemerintah Yaman pada Jumat (11/9).
Pulau Perim, yang juga dikenal dengan nama Mayyun dalam bahasa Arab, terletak tepat di tengah Selat Bab al-Mandab. Posisi geografis pulau ini membagi jalur pelayaran utama menjadi dua kanal navigasi di perairan yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, salah satu urat nadi terpenting lalu lintas maritim internasional dan pasokan energi dunia.
Selain menguasai Pulau Perim, Houthi merebut kendali atas Dhubab, kota pesisir di Taiz yang menghadap langsung ke Selat Bab al-Mandab. Jatuhnya Dhubab memaksa pasukan loyalis pemerintah Yaman menarik diri dan mundur ke arah barat daya menuju Provinsi Lahij.
Gempa Jakarta Hari Ini, LRT Jabodebek Tetap Beroperasi Normal

Hingga pukul 10.30 GMT (17.30 WIB), pihak Houthi maupun perwakilan resmi pemerintah Yaman belum merilis pernyataan resmi terkait perubahan kendali di kedua wilayah tersebut.
Penguasaan kawasan ini terjadi menyusul pergerakan militer Houthi sebelumnya di sepanjang pesisir barat Yaman. Kelompok tersebut telah mengambil alih seluruh sektor barat Provinsi Al-Hudaydah usai memasuki wilayah Hays dan Al-Khawkhah, sebelum merangsek ke arah barat Taiz dan menduduki sejumlah kota pantai Laut Merah, termasuk Mokha.
Polisi Tangkap 8 Pelaku Pencurian di Lokasi Kebakaran Jayapura

Di front pertempuran lain, dinamika militer bergerak berbeda. Pasukan pemerintah Yaman mencatatkan kemajuan di Provinsi Al-Jawf di bagian utara negara itu, dengan posisi pasukan yang semakin mendekati ibu kota provinsi, Al-Hazm. Pada saat yang sama, kontak senjata masih terus berlangsung di beberapa front aktif di Provinsi Marib, Al-Bayda, serta Al-Dhale.
Konflik bersenjata di Yaman telah berlangsung sejak September 2014, ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi utama. Eskalasi militer meluas setelah koalisi pimpinan Arab Saudi meluncurkan intervensi pada Maret 2015 guna mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.






