Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa nilai transaksi perdagangan ritel offline di Indonesia masih sekitar dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan transaksi online. Porsi belanja fisik mendominasi lanskap perdagangan domestik dengan kontribusi mencapai dua per tiga dari total pasar, sementara sisanya sepertiga berasal dari transaksi digital.
Secara nominal, nilai transaksi ritel offline di Indonesia menyentuh angka US$125 miliar atau setara Rp2.215,26 triliun, dengan acuan kurs Rp17.713 per dolar AS. Pada periode yang sama, nilai transaksi ritel online tercatat sebesar US$61,18 miliar atau sekitar Rp1.083,68 triliun.
Airlangga memaparkan data tersebut saat menghadiri pembukaan Indonesia Retail Summit and Expo 2026 di Swissotel PIK Avenue, Jakarta Utara, Rabu (26/8). Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi bagi para pelaku usaha ritel modern guna mengoptimalkan pengelolaan stok, membaca proyeksi permintaan pasar, serta menentukan variasi produk dagangan secara presisi.
Garuda Ubah Aturan Bagasi per 1 September, Tak Bisa Lagi Gabung Berat

Ketersediaan Pasokan dan Tantangan Barang Impor
Selain menyoroti potensi pasar, pemerintah menerima sejumlah masukan terkait ketersediaan stok barang ritel di dalam negeri yang dilaporkan masih tipis. Kondisi keterbatasan stok ini terutama terjadi pada produk-produk yang pasokannya mengandalkan pasokan luar negeri.
Airlangga mengingatkan bahwa pasokan barang yang terbatas berisiko mendorong masyarakat untuk berbelanja langsung ke luar negeri. Guna mengantisipasi keluarnya potensi belanja domestik, pengelolaan dan kelancaran arus stok barang impor menjadi fokus penyelesaian bersama antara Kemenko Perekonomian dan Menteri Perdagangan Budi Santoso.
Konsumsi Domestik Topang Pertumbuhan Ekonomi
Kinerja sektor ritel berkaitan erat dengan konsumsi domestik yang terus menunjukkan tren positif. Pada kuartal II 2026, konsumsi masyarakat tercatat tumbuh 5,06 persen dan menyumbang 53,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Desil Belum Beres, Mungkinkah Pembatasan Pertalite Jalan Tahun Ini?

Indikator ekonomi pendukung lainnya juga terpantau solid. Indeks keyakinan konsumen bertahan di atas ambang 100, sementara Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur tetap berada di atas level ekspansif 50 sebagai gambaran positif aktivitas industri memasuki paruh kedua tahun ini.
Kombinasi stabilitas konsumsi dan aktivitas manufaktur tersebut turut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 yang mencapai 5,45 persen, menjadikannya laju pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam kurun waktu 13 tahun terakhir.






