Pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street mencatatkan performa positif pada penutupan perdagangan hari Jumat (7/8). Indeks S&P 500 berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi baru setelah menguat sebesar 47,68 poin atau 0,62 persen ke level 7.757,64. Kenaikan pada akhir pekan ini melengkapi tren penguatan yang terjadi sepanjang minggu. Dalam akumulasi sepekan, indeks S&P 500 tercatat melonjak sebesar 3,58 persen.
Tidak hanya S&P 500 yang mencatatkan kinerja positif, indeks acuan utama lainnya di Wall Street juga ditutup di zona hijau. Dow Jones Industrial Average mengalami kenaikan sebesar 151,83 poin atau 0,28 persen, sehingga parkir di level 54.036,93. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite mencatatkan lonjakan dengan bertambah 342,26 poin atau 1,30 persen ke level 26.690,62. Sepanjang pekan ini, Nasdaq memimpin penguatan dengan kenaikan total mencapai 5,19 persen, sedangkan Dow Jones terangkat sebesar 2,96 persen.
Kondisi pasar secara keseluruhan menunjukkan dominasi pergerakan positif. Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang mengalami penguatan mengungguli saham yang melemah dengan rasio 2,49 banding 1. Pola serupa juga terjadi di bursa Nasdaq, di mana rasio saham yang naik berbanding saham yang turun mencapai 2,07 banding 1. Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi di bursa AS secara keseluruhan tercatat mencapai 16,94 miliar saham. Angka volume perdagangan harian ini berada di bawah rata-rata volume perdagangan selama 20 hari terakhir yang berada di kisaran 17,56 miliar saham.
The Fed Naikkan Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Menguat

Penguatan Wall Street ini terjadi di tengah rilis data ketenagakerjaan terbaru dari Departemen Tenaga Kerja AS. Laporan resmi menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) mengalami pengurangan sebanyak 23.000 pekerjaan pada bulan lalu. Angka ini berada jauh di bawah ekspektasi para ekonom yang disurvei oleh Reuters, yang sebelumnya memproyeksikan adanya penambahan sebanyak 80.000 lapangan pekerjaan. Kendati demikian, tingkat pengangguran di Amerika Serikat justru mencatatkan penurunan menjadi 4,1 persen dari posisi bulan Juni yang berada di angka 4,2 persen.
Dinamika data ekonomi ini turut memengaruhi proyeksi pasar terhadap kebijakan moneter di masa mendatang. Berdasarkan data dari CME FedWatch, probabilitas pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada pertemuan berikutnya mengalami penurunan hingga ke kisaran 44 persen. Langkah kebijakan moneter ini kini berada di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh.
Di sisi lain, kinerja keuangan perusahaan yang solid menjadi pendorong utama kepercayaan investor di lantai bursa. Dari total 436 perusahaan dalam indeks S&P 500 yang telah merilis laporan kinerja keuangan mereka hingga Jumat pagi, sebanyak 85,1 persen di antaranya berhasil membukukan hasil yang melampaui ekspektasi para analis pasar. Pencapaian ini berada jauh di atas rata-rata historis perusahaan S&P 500 yang mampu melampaui ekspektasi analis sejak tahun 1994, yakni di angka 68 persen. Tom Siomades, kepala ekonom pasar di AE Wealth Management yang berbasis di Topeka, Kansas, turut mengamati perkembangan kinerja pasar yang kuat ini.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Pergerakan saham secara individual juga diwarnai oleh sejumlah lonjakan harga yang signifikan. Saham Airbnb menjadi saham berkinerja terbaik di indeks S&P 500 setelah melonjak 17,4 persen. Kenaikan tajam ini dipicu oleh laporan pendapatan kuartal kedua Airbnb yang berhasil melampaui estimasi para analis. Selain itu, saham SpaceX milik Elon Musk juga melesat sebesar 15,8 persen, sehari setelah berakhirnya pembatasan pertama dari ketentuan lock-up saham perusahaan tersebut. Saham perusahaan perangkat lunak kolaborasi Atlassian meroket hingga 35,3 persen, yang tercatat sebagai kenaikan harian terbesar sepanjang sejarah berdirinya perusahaan tersebut.
Saham sektor teknologi lainnya juga mencatatkan penguatan. Saham produsen chip Microchip Technology melonjak sebesar 13,9 persen, sekaligus membukukan performa perdagangan harian terbaik mereka dalam kurun waktu lebih dari 15 bulan terakhir. Namun, tidak semua emiten mencatatkan kinerja positif pada perdagangan kali ini. Saham perusahaan teknologi periklanan Trade Desk tercatat anjlok sebesar 21,9 persen. Penurunan tajam ini menempatkan Trade Desk sebagai saham dengan kinerja terburuk di indeks S&P 500 pada hari tersebut, menyusul proyeksi pendapatan kuartal ketiga dari pihak manajemen yang berada di bawah ekspektasi pasar.






