Sebanyak lebih dari 3.000 warga di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di pengungsian hingga 32 hari pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan tersebut pada 15 Agustus 2026.
Para penyintas saat ini menempati dua skema penampungan, yakni posko pengungsian terpusat serta tenda keluarga mandiri yang didirikan di sekitar pekarangan rumah. Posko terpusat berada di Desa Rokirole—meliputi area lapangan dan Dusun Koa—serta Desa Nitunglea di lapangan voli dan samping Kapela Cua. Dari delapan desa di Pulau Palue, empat desa di kawasan pegunungan tercatat mengalami dampak terparah, yaitu Nitunglea, Rokirole, Tuanggeo, dan Ladolaka.
Perubahan Data Kerusakan dan Krisis Air Bersih
Penanganan pascabencana kini dihadapkan pada penyesuaian data kerusakan fisik. Data awal pemerintah kecamatan mencatat 505 rumah rusak berat, 57 rusak sedang, dan 500 rusak ringan. Namun, hasil verifikasi faktual tahap pertama oleh Kementerian Pekerjaan Umum bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman berdasarkan kriteria BNPB menetapkan 123 rumah rusak berat dan 156 rusak sedang. Warga diberi ruang menyanggah klasifikasi tersebut melalui uji publik pada 16–18 September 2026.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Camat Rudolfus menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan opsi pembangunan hunian sementara (huntara) atau bantuan Dana Siap Pakai (DSP) bagi warga dengan rumah kategori rusak berat. Sejak minggu pertama tanggap darurat, sekitar 200 tenda keluarga telah disalurkan ke delapan desa.
Di tingkat tapak, persoalan logistik dan fasilitas dasar masih membebani warga. Koordinator Posko Utama Desa Rokirole, Nikodemus W. Lowo, mencatat 979 warga desanya mengungsi, dengan 285 jiwa dari 96 kepala keluarga menempati posko Lapangan Guntor di Dusun Cawalo. Keterbatasan tenda memaksa sekitar 9 hingga 10 keluarga tetap bertahan di teras rumah masing-masing.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Kerusakan retak pada bak-bak penampungan air milik warga juga memicu krisis air bersih harian. Sejumlah korban luka, seperti Alfredo Riki yang sempat mendapat 17 jahitan di Puskesmas Tuanggeo akibat tertimpa reruntuhan tembok saat gempa terjadi, kini terus bertahan di pengungsian sembari menanti kepastian realisasi hunian pascabencana.






