PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus mematangkan langkah diversifikasi usaha dan efisiensi operasional guna memperkuat posisinya di luar bisnis tambang konvensional. Emiten pertambangan pelat merah ini mulai menjajaki penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di area operasional sekaligus mendorong hilirisasi energi.
Dalam program Closing Bell CNBC Indonesia, Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan memaparkan strategi perseroan dalam menjaga kesinambungan bisnis di tengah dinamika pasar energi global. PTBA menargetkan produksi batu bara sebesar 48 juta ton pada 2026. Dari total volume produksi tersebut, perseroan berkomitmen mengalokasikan 50 persen untuk memenuhi kewajiban pasar domestik atau Domestic Market Obligation (DMO).
Penurunan Kalori Tinggi dan Potensi Hilirisasi
Kondisi cadangan saat ini menunjukkan pasokan batu bara kalori tinggi terus mengalami penurunan. Situasi ini menyisakan porsi produksi yang didominasi oleh batu bara kalori menengah dan kalori rendah. Kendati demikian, permintaan pasar global terhadap batu bara kalori menengah tetap relatif kuat di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, sehingga menopang stabilitas harga dan serapan komoditas.
Danantara Tepis Isu Kredit Macet, Pastikan Pinjaman Berjaminan Negara Aman

Untuk mengoptimalkan nilai tambah dari batu bara berkalori lebih rendah, PTBA memacu program hilirisasi. Salah satu proyek prioritas adalah gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi bahan bakar Liquefied Petroleum Gas (LPG). Pembangunan fasilitas pabrik gasifikasi batu bara tersebut ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
Transisi Operasional Berbasis Kendaraan Listrik
Sejalan dengan ekspansi hilirisasi, PTBA berupaya memangkas ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) dalam aktivitas penambangan. Perseroan mengagendakan transisi armada menuju kendaraan operasional tambang bertenaga listrik pada akhir tahun 2026.
Pembiayaan Multifinance Masih Tumbuh Terbatas, NPF Naik Tipis

Langkah dekarbonisasi operasional ini disiapkan untuk melengkapi target volume produksi tanpa membebani biaya konsumsi bahan bakar fosil, sekaligus menjadi fondasi transisi perseroan menuju ekosistem bisnis beyond coal.






