Mantan Ketua DPR Filipina Martin Romualdez resmi ditangkap aparat kepolisian pada Senin (7/9). Romualdez, yang merupakan sepupu Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., ditangkap atas dugaan keterlibatan dalam skandal korupsi proyek pengendalian banjir fiktif bernilai fantastis.
Penangkapan berlangsung di Cardinal Santos Medical Center. Pihak kepolisian mendatangi rumah sakit tersebut setelah Romualdez dilarikan ke fasilitas medis akibat mengalami serangan kecemasan dan tekanan darah yang tidak stabil. Eksekusi surat perintah penangkapan dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Filipina Jonvic Remulla bersama Jenderal Nartatez.
Jaksa penuntut mendakwa Romualdez terlibat dalam skema korupsi sebesar 7,4 miliar peso atau sekitar Rp2,1 triliun. Modus yang dijalankan meliputi penerimaan suap, pengalokasian proyek bermasalah, hingga penyisipan anggaran ilegal pada proyek infrastruktur penanganan banjir. Di Filipina, dakwaan tersebut tergolong tindak pidana korupsi skala besar yang tidak memungkinkan adanya jaminan penangguhan penahanan (non-bailable) serta membawa ancaman hukuman penjara seumur hidup.
22 Desainer IFDC Bantu Korban Gempa NTT Lewat Instalasi Berbasis Amal

Kuasa hukum Romualdez, Ade Fajardo, menegaskan kliennya akan mengikuti seluruh tahapan peradilan yang berlaku. Fajardo menyatakan pihak pembela menghormati pengadilan serta proses hukum, sekaligus menuntut pemenuhan hak atas proses peradilan yang adil.
Persoalan proyek penanggulangan banjir sebelumnya telah menjadi sorotan publik sejak Presiden Marcos Jr. mengangkatnya sebagai materi utama dalam pidato kenegaraan pada Juli 2025. Seiring meluasnya pengusutan kasus, Romualdez memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Ketua DPR pada September 2025, meski saat ini masih memegang status sebagai anggota Kongres Filipina.
Polisi Usut Kasus Pemerkosaan Gadis 15 Tahun Pengungsi Gempa NTT

Kepala Ombudsman Filipina Jesus Crispin Remulla mengungkapkan rencana untuk mengajukan gugatan perkara tambahan terhadap Romualdez dan pihak lain yang terindikasi bersekongkol mengakumulasi kekayaan secara ilegal menggunakan anggaran negara. Salah satu tokoh lain yang turut terseret dalam berkas perkara ini adalah mantan anggota parlemen Elizaldy Co, yang dilaporkan melarikan diri dari proses hukum.






