Kebakaran lahan yang melanda kawasan Gunung Bromo masih terus berlangsung dan telah memasuki hari kesembilan sejak pertama kali muncul pada Selasa (3/8). Hingga saat ini, tim gabungan terus berupaya keras untuk memadamkan kobaran api yang kian meluas. Berdasarkan hasil perhitungan sementara yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), luas area yang terbakar kini telah mencapai kurang lebih 921,42 hektare. Kebakaran ini tidak hanya terpusat di satu titik, melainkan telah menyebar dan mencapai empat wilayah kabupaten yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Vegetasi yang mendominasi kawasan yang terbakar tersebut meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, serta semak belukar yang kering.
Untuk mengoordinasikan seluruh upaya pemadaman di lapangan, tim gabungan telah mendirikan posko personel yang berlokasi di wilayah Kabupaten Malang. Posko utama ini terletak tepat di samping Bromo Hillside dan berfungsi sebagai pusat kendali serta koordinasi bagi seluruh petugas yang terlibat. Saat ini, fokus pemadaman difokuskan pada dua wilayah utama yang krusial. Wilayah pertama adalah kawasan Dingklik yang secara administratif masuk dalam wilayah Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Sementara itu, wilayah fokus kedua berada di kawasan P30 yang terletak di Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Mentan Bakal Bertemu Komnas Perempuan Usai Usul Korwil BGN Surabaya Diganti

Upaya pemadaman melalui jalur darat menghadapi berbagai tantangan berat yang menyulitkan petugas di lapangan. Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh tim pemadam manual adalah kondisi medan yang sangat terjal, sehingga membatasi jangkauan mereka untuk mendekati titik-titik api secara langsung. Selain medan yang sulit, faktor cuaca berupa embusan angin kencang juga menjadi penghalang besar. Petugas mencatat kecepatan angin di lapangan berkisar antara 5 hingga 37 kilometer per jam. Angin kencang ini tidak hanya mempersulit pengendalian api dari darat, tetapi juga menyebabkan api merembet dan meluas dengan sangat cepat ke area lain.
Sebagai langkah antisipasi untuk menjangkau area yang sulit diakses lewat darat, operasi udara dengan metode pemadaman basah atau water bombing pun dikerahkan. Sebanyak tiga unit helikopter yang berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI Angkatan Laut (TNI AL) dikerahkan untuk mendinginkan titik-titik api di wilayah Pakis Bincis, Dingklik, serta kawasan P30. Untuk mendukung operasi ini, pasokan air diambil dari Danau Ranupani dan Ranu Regulo. Namun, kendala baru muncul karena debit air di Danau Ranupani dilaporkan sudah mulai menyusut, yang berpotensi memengaruhi kelancaran pasokan air untuk helikopter.
Kejagung Tahan Dua Tersangka Korupsi Transfer Pricing PT TPL, Kronologi dan Langkah Hukum

Selain kendala air, tim juga dihadapkan pada munculnya titik api baru di kawasan Penanjakan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Pasuruan. Di kawasan Penanjakan ini, pemadaman menggunakan helikopter memiliki keterbatasan karena hanya dapat dilakukan dengan satu unit helikopter saja. Secara umum, faktor cuaca berupa kabut tebal dan kepulan asap tebal dari kebakaran sangat memengaruhi jarak pandang pilot. Ketika kondisi cuaca memburuk hingga mencapai titik nol jarak pandang (zero visibility), helikopter terpaksa harus menghentikan sementara operasi water bombing demi menjaga keselamatan penerbangan yang menjadi prioritas paling utama dalam misi ini.






