Perayaan Yaqowiyu di Jatinom, Klaten, kembali menyedot perhatian ribuan warga yang datang dari berbagai daerah. Puncak acara adat yang sangat identik dengan pembagian kue apem ini berlangsung meriah dan dipadati oleh masyarakat yang ingin mendapatkan berkah. Tradisi tahunan ini bukan sekadar acara kumpul-kumpul biasa bagi warga, melainkan sebuah warisan budaya turun-temurun yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat setempat maupun pengunjung yang sengaja datang dari luar daerah.
Mengingat tingginya antusiasme masyarakat, banyak hal menarik yang patut diketahui mengenai pelaksanaan acara ini. Berikut adalah sejumlah informasi penting berupa tanya jawab yang merangkum keseluruhan puncak perayaan Yaqowiyu di Klaten berdasarkan fakta di lapangan.
Apa sebenarnya tradisi sebar apem dalam perayaan Yaqowiyu ini?
Tradisi sebar apem pada puncak perayaan Yaqowiyu merupakan sebuah warisan budaya luhur yang diturunkan oleh tokoh ulama Ki Ageng Gribig. Pada perayaan Yaqowiyu yang bertepatan dengan 1448 Hijriah kali ini, tradisi tersebut tetap dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus menjaga kebudayaan daerah. Ribuan masyarakat yang memadati lokasi memercayai bahwa kue apem warisan Ki Ageng Gribig yang dibagikan dalam acara ini penuh dengan berkah bagi kehidupan mereka.








