Langkah Amerika Serikat (AS) memindahkan kapal induk USS George Washington dari kawasan Indo-Pasifik menuju Timur Tengah dinilai dapat menciptakan celah keamanan bagi AS. Pergerakan kapal perang bertenaga besar ini menjadi perhatian di kawasan Asia Tenggara setelah Angkatan Laut AS menyatakan bahwa kapal induk tersebut melintasi Selat Singapura pada hari Kamis. Setelah melintasi Selat Singapura, seorang pejabat AS mengatakan bahwa kapal USS George Washington kemudian melintasi Selat Malaka menuju Samudra Hindia dalam perjalanannya menuju kawasan Timur Tengah.
Sebelum berlayar melintasi Selat Singapura dan Selat Malaka menuju Samudra Hindia, kapal induk USS George Washington diketahui sempat beroperasi di sejumlah titik di kawasan Pasifik. Kapal induk USS George Washington diketahui berada di Guam pada pertengahan Juni. Memasuki awal Juli, kapal perang tersebut beroperasi di Laut Filipina. Rangkaian aktivitas kapal di kawasan tersebut kemudian berlanjut ketika USS George Washington sempat melakukan kunjungan pelabuhan di Da Nang, Vietnam, pada akhir Juli sebelum akhirnya ditarik dari kawasan Indo-Pasifik.
Pemindahan armada militer ini terjadi karena USS George Washington diperkirakan akan menggantikan tugas kapal induk USS Abraham Lincoln di Timur Tengah. Keberadaan USS George Washington sebagai pengganti menjadi sangat mendesak setelah kondisi awak di kapal USS Abraham Lincoln menjadi sorotan. Sekitar 5.000 pelaut dan Marinir yang bertugas di USS Abraham Lincoln menghadapi situasi sulit setelah muncul laporan mengenai menipisnya persediaan di atas kapal, serta memburuknya kondisi kesehatan mental awak yang belum menginjakkan kaki di daratan sejak bulan Desember.
Arah Konsolidasi PSI dan Evaluasi Perjalanan Politik Partai

Langkah pemindahan armada kapal induk dari kawasan Indo-Pasifik tersebut menuai kritik tajam dan peringatan dari pakar militer. Mantan Komandan Carrier Strike Group 5, Laksamana Muda (Purn) Mark Montgomery, memperingatkan bahwa pengerahan USS George Washington ke Timur Tengah dapat menjadi risiko keamanan nasional bagi Amerika Serikat. Mark Montgomery menyatakan bahwa langkah ini merupakan risiko keamanan nasional karena mengirimkan pesan pencegahan yang lemah kepada China serta tidak memberikan jaminan keamanan bagi sekutu dan mitra Amerika Serikat di kawasan Pasifik.
Di sisi lain, pergeseran armada ini dinilai membawa implikasi strategis yang menguntungkan bagi pihak lain di kawasan. Direktur Program Asia Tenggara Center for Strategic and International Studies (CSIS), Greg Poling, mengatakan bahwa Beijing justru dapat melihat situasi pemindahan kapal tersebut sebagai suatu keuntungan strategis. Menurut Greg Poling, pihak China merasa cukup senang dengan teralihnya perhatian Amerika Serikat ke Timur Tengah, serta memanfaatkan rasa frustrasi yang dialami oleh para sekutu dan mitra Amerika Serikat di Pasifik.
PPP Siapkan Tim Hukum dan Perkuat Fondasi Organisasi Menghadapi Pemilu 2029

Keputusan penarikan USS George Washington ke Timur Tengah juga diperkirakan menimbulkan dampak jangka panjang terhadap postur militer Amerika Serikat di kawasan Pasifik. Penarikan kapal induk ini dapat membuat AS hanya memiliki kehadiran angkatan laut yang terbatas di Pasifik selama lebih dari 1,5 tahun. Situasi kehadiran yang terbatas tersebut tidak terhindarkan karena setelah menyelesaikan seluruh rangkaian misinya di Timur Tengah nanti, kapal induk USS George Washington harus kembali menjalani masa pemeliharaan.






