Pemerintah tengah mempercepat pembangunan megaproyek tambak udang terintegrasi atau Integrated Shrimp Farming (ISF) seluas 2.150 hektare di Kabupaten Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek budidaya perikanan berskala raksasa ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada awal 2028.
Pembangunan kawasan tambak tersebut merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam mendorong pemerataan ekonomi di kawasan timur Indonesia. Pekerjaan fisik di lapangan terus berjalan agar seluruh infrastruktur utama tuntas sesuai tenggat waktu pada akhir 2027.
Progres Konstruksi dan Alokasi Fasilitas
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) Muhammad Qodari menjelaskan bahwa hingga 29 Juli 2026, progres pembangunan fisik proyek ISF Waingapu telah mencapai 10 persen. Aktivitas konstruksi tersebut didukung oleh pengerahan lebih dari 300 unit alat berat dan melibatkan tenaga kerja lokal setempat.
Siap-Siap! Tambak Garam Raksasa RI di NTT Panen Perdana November 2026

Dari total bentang lahan seluas 2.150 hektare, seluas 1.361 hektare dialokasikan khusus untuk area kolam tambak serta fasilitas produksi penunjang. Pembangunan kawasan tambak modern ini menyerap investasi sebesar US$500 juta atau setara dengan Rp7,2 triliun.
Alokasi pendanaan jumbo tersebut dimanfaatkan untuk membangun jaringan kolam budidaya, tandon air, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta ragam fasilitas pendukung guna memastikan tata kelola budidaya terintegrasi dan ramah lingkungan.
Target Produksi dan Dampak Ekonomi
Keberadaan ISF Waingapu diproyeksikan mampu memproduksi 52.800 ton udang per tahun untuk memasok kebutuhan pasar domestik sekaligus komoditas ekspor. Selain mendongkrak produksi, kawasan industri akuakultur ini ditargetkan menyerap hingga 7.000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok dan operasionalnya.
Beras Jadi Penyumbang Inflasi Agustus 2026, Amran Tunjuk Penyebabnya

Pemerintah juga memperkirakan proyek ini dapat memberikan efek berganda bagi sektor kelautan dan perikanan nasional. Fasilitas terintegrasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan perikanan tangkap hingga 2,3 juta ton per tahun.
Secara finansial, program ISF ditargetkan menambah pendapatan nelayan hingga sebesar Rp20,6 triliun per tahun. Proyek ini juga diproyeksikan menyumbang peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor perikanan hingga Rp1,8 triliun per tahun setelah beroperasi penuh.






