Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah melakukan uji coba produksi di Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN) Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Fasilitas tambak seluas 616 hektare yang telah selesai dibangun pada tahap pertama tersebut ditargetkan melangsungkan panen perdana pada November 2026.
Pengembangan kawasan industri garam terintegrasi ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam menekan ketergantungan terhadap impor komoditas garam nasional.
Pembangunan KSIGN Rote Ndao Capai Rp2 Triliun
Kawasan tambak garam di Rote Ndao direncanakan mencakup area seluas 2.000 hektare dengan total nilai investasi mencapai Rp2 triliun. Saat ini, setelah penyelesaian tahap I seluas 616 hektare, pembangunan berlanjut ke tahap II yang mencakup area seluas 751 hektare.
Beras Jadi Penyumbang Inflasi Agustus 2026, Amran Tunjuk Penyebabnya

Secara keseluruhan, pemerintah merancang total sentra industri garam di wilayah NTT mencapai 10.764 hektare. Dari total luasan tersebut, sebanyak 2.000 hektare dikembangkan lewat skema kerja sama pemanfaatan wilayah antara pemerintah dan masyarakat, sedangkan 8.000 hektare sisanya didanai melalui skema investasi langsung oleh para pelaku usaha.
Target Swasembada dan Penghentian Impor 2029
Melalui optimalisasi sentra produksi garam di NTT dan daerah lainnya, produksi garam nasional diproyeksikan melonjak secara bertahap. Dari angka dasar (baseline) sebesar 1 juta ton, volume produksi ditargetkan naik menjadi 2,5 juta ton pada 2026, kemudian meningkat ke 3,5 juta ton pada 2027, dan mencapai 5 juta ton pada 2029.
Tambak Udang Raksasa RI Seukuran 2.150 Lapangan Bola Beroperasi 2028

Peningkatan kapasitas produksi domestik ini ditujukan untuk memangkas arus impor garam secara langsung. Dari baseline impor sekitar 2,6 juta ton, volume impor ditekan menjadi 2 juta ton pada 2026, lalu turun ke 1 juta ton pada 2027, hingga menyentuh angka nol pada 2029 saat Indonesia membidik swasembada garam sepenuhnya.






