Kenaikan harga beras kembali menjadi salah satu pemicu laju inflasi pangan pada Agustus 2026. Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa tekanan harga beras bukan disebabkan oleh defisit pasokan, melainkan adanya praktik kecurangan pada peredaran beras fortifikasi di pasar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia pada Agustus 2026 menyentuh level 3,19% secara tahunan (year on year/yoy). Kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) mencatatkan inflasi tahunan sebesar 4,06%, yang dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas utama seperti beras, daging ayam ras, cabai rawit, daging sapi, dan cabai merah.
Secara bersamaan, inflasi inti tercatat sebesar 2,92% yoy, naik dari 2,17% pada Agustus 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa komponen inflasi inti menyumbang andil terbesar terhadap inflasi Agustus 2026, yakni mencapai 1,87%. Komoditas penyumbang inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas mesin, hingga laptop atau notebook.
Siap-Siap! Tambak Garam Raksasa RI di NTT Panen Perdana November 2026

Temuan Beras Fortifikasi Bermasalah
Menanggapi beras yang masuk dalam daftar komoditas pendorong inflasi, Mentan Amran Sulaiman memastikan ketersediaan stok beras nasional dalam kondisi aman dan melimpah. Menurutnya, akar masalah lonjakan harga saat ini sedang dalam proses penyelidikan karena berkaitan dengan temuan penyimpangan di tingkat produk.
Amran mengungkapkan bahwa pengujian laboratorium mendapati sekitar 90 persen sampel beras fortifikasi yang diperiksa terbukti melanggar aturan. Beras yang diklaim mengandung vitamin tambahan tersebut nyatanya tidak memiliki kandungan sebagaimana dijanjikan, tetapi dijual dengan harga berlipat ganda jauh di atas batas wajar.
Tambak Udang Raksasa RI Seukuran 2.150 Lapangan Bola Beroperasi 2028

Produk beras berlabel fortifikasi tersebut ditemukan beredar dengan harga mulai dari Rp22.000 per kilogram, Rp42.000 per kilogram, bahkan hingga Rp56.000 per kilogram. Padahal, harga beras medium normal berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp13.500 per kilogram.
Penjualan beras kualitas standar dengan label khusus dan banderol harga yang mencapai Rp40.000 per kilogram dinilai Amran mendistorsi struktur harga di pasar dan secara langsung mengerek angka inflasi.






