Empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) merancang alat skrining bernama Glicovia yang mampu mendeteksi risiko kondisi prediabetes tanpa harus melakukan pengambilan sampel darah atau tusuk jari. Perangkat portabel ini memanfaatkan sampel air liur (saliva) untuk memberikan alternatif pemeriksaan metabolik yang lebih nyaman dan non-invasif.
Inovasi ini dirancang merespons tingginya angka gangguan metabolik di Tanah Air. Data yang menjadi acuan tim pengembang mencatat sekitar 20,4 juta penduduk Indonesia rentang usia 20 hingga 79 tahun hidup dengan diabetes pada 2024, sementara sekitar 29,8 juta orang lainnya diperkirakan berada dalam fase prediabetes atau impaired glucose tolerance.
Integrasi Sensor Elektrokimia dan Kecerdasan Buatan
Glicovia memadukan tiga komponen teknologi utama, yakni sensor elektrokimia, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan Internet of Things (IoT). Komponen sensor elektrokimia bertugas membaca sejumlah parameter biologis dalam saliva, meliputi kadar glukosa, fruktosamin saliva, hingga tingkat keasaman atau pH.
Erupsi Gunung Anak Krakatau, BGN Sesuaikan Sementara Operasional MBG di Wilayah Terdampak

Informasi hasil pembacaan sensor selanjutnya diproses menggunakan model kecerdasan buatan berbasis Support Vector Machine (SVM) untuk mengkalkulasi dan menentukan kategori tingkat risiko prediabetes. Sistem tersebut juga terhubung dengan IoT, memungkinkan data penilaian diteruskan ke aplikasi atau platform digital agar pengguna dapat mencatat serta memantau riwayat kondisi kesehatannya secara berkala.
Selain meminimalkan rasa sakit akibat prosedur pengambilan darah, tim perancang turut menerapkan konsep green diagnostics. Pemanfaatan air liur sebagai sampel uji dinilai berpotensi mengurangi volume limbah bahan habis pakai yang lazim dihasilkan dari uji darah konvensional.
Kolaborasi Tim dan Target Riset
Pengembangan Glicovia digarap oleh tim kolaborasi lintas fakultas yang diketuai Alya Ramadhani bersama Naefi Luthfia Zahra dan Emmily Martha Renaunia dari Fakultas Kedokteran Gigi UGM, serta Hendra Kurnia Maliqi dari Fakultas Teknik UGM. Tim ini menjalankan riset di bawah bimbingan Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K).
Ekspedisi Samudra Hindia Temukan 149 Spesies Baru dan 1.000 Gigi Hiu

Inisiatif perangkat ini didanai melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 yang dikelola Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan.
Saat ini, progres pengerjaan Glicovia telah mencapai sekitar 70 persen. Tim mahasiswa tersebut menargetkan penyempurnaan alat dapat berjalan optimal sehingga mampu melangkah menuju ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).






