Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker berstandar N95 atau KN95 saat harus beraktivitas di luar rumah menyusul sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Penggunaan masker dengan daya filtrasi tinggi dinilai krusial untuk menyaring partikel debu halus yang berisiko mengganggu kesehatan pernapasan.
Selain mengenakan masker, Teddy meminta warga melengkapi perlindungan diri dengan kacamata pelindung dan menghindari pemakaian lensa kontak. Aktivitas di ruang terbuka disarankan untuk dibatasi selama sebaran abu masih pekat di udara. Setelah beraktivitas di luar ruangan, masyarakat juga diingatkan agar segera mencuci wajah dan tangan.
Kewaspadaan turut ditekankan bagi para pengguna jalan. Pengendara diminta menurunkan kecepatan kendaraan mengingat endapan abu vulkanik berpotensi membatasi jarak pandang sekaligus membuat permukaan aspal menjadi licin.
Bandara Soetta, Halim hingga Husein Sastranegara Ditutup Sampai Pukul 23.59 WIB

Dampak sebaran abu vulkanik ini turut mengganggu sektor penerbangan. Operasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dihentikan sementara hingga pukul 13.30 WIB demi menjaga keselamatan penerbangan. Informasi mengenai penyesuaian rute maupun kompensasi penumpang selanjutnya dikoordinasikan secara berkala oleh Kementerian Perhubungan.
Sebaran Abu Capai Jakarta dan Jawa Barat
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terpantau telah menjangkau wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat sejak Minggu (6/9/2026) pukul 07.00 WIB. Pemantauan tersebut merujuk pada integrasi data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta citra satelit RGB Himawari-9.
Bandara Halim Ditutup Sementara Imbas Abu Anak Krakatau, 50 Penerbangan Dibatalkan

Analisis BMKG mengidentifikasi dua klaster pergerakan abu. Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, debu bergerak ke arah timur-selatan melingkupi sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya. Sementara itu, pada lapisan udara yang lebih tinggi hingga 50.000 kaki, partikel abu bergerak ke arah barat daya-barat laut menuju wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Untuk periode 6 hingga 8 September 2026, kondisi cuaca di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau secara umum diprakirakan cerah hingga berawan. Angin dominan bertiup dari arah timur menuju tenggara dengan kecepatan berkisar antara 31 hingga 37 kilometer per jam.






