Eksplorasi laut dalam di kawasan terpencil Samudra Hindia mengungkap keanekaragaman hayati purba dan modern yang melimpah. Dua ekspedisi riset yang dijalankan pada 2021 dan 2022 di sekitar Pulau Christmas serta Kepulauan Cocos (Keeling) berhasil mengidentifikasi 149 spesies baru dan sekitar 1.000 fosil gigi hiu di dasar samudra.
Wilayah laut dalam selama ini menjadi ekosistem yang paling minim terpetakan, padahal sekitar 71 persen permukaan Bumi tertutup lautan dengan 90 persen di antaranya memiliki kedalaman melebihi 1.000 meter. Dalam survei tersebut, tim peneliti menyisir area pada kedalaman mulai 94 meter hingga mencapai 5.431 meter di bawah permukaan laut.
Penjelajahan Gunung Laut dan Dataran Abisal
Pengambilan sampel difokuskan pada 22 gunung bawah laut, dua gugusan pulau, serta dataran abisal di sekitarnya. Formasi gunung bawah laut di perairan ini merupakan struktur vulkanik purba yang terbentuk sekitar 40 hingga 120 juta tahun silam, menjulang ribuan meter dari dasar laut.
Erupsi Gunung Anak Krakatau, BGN Sesuaikan Sementara Operasional MBG di Wilayah Terdampak

Untuk memetakan kehidupan di habitat ekstrem ini, peneliti mengumpulkan sampel organisme bentik dan mengukur parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, serta kadar oksigen terlarut. Pengamatan visual dibantu kamera bawah laut, sementara pendeteksian keanekaragaman hayati diperkuat dengan analisis DNA lingkungan (eDNA) dari sampel air laut.
Secara keseluruhan, riset tersebut mencatat keberadaan 1.059 kelompok taksonomi, dengan 149 di antaranya merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan dalam literatur ilmiah sebelumnya.
Temuan 'Kuburan Gigi Hiu' Purba
Salah satu penemuan paling mencolok terjadi di Dataran Abisal Cocos menjelang akhir fase ekspedisi. Tim peneliti mengangkat sekitar 1.000 gigi hiu dari dasar laut, sebuah lokasi yang kemudian dijuluki sebagai 'Kuburan Gigi Hiu'.
Tak Perlu Tusuk Jari, Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Deteksi Prediabetes dari Air Liur

Koleksi fosil gigi tersebut merekam jejak evolusi dan keberadaan berbagai kelompok hiu selama lebih dari 22 juta tahun. Spesimen yang teridentifikasi mencakup gigi hiu modern seperti hiu putih besar, hiu mako, dan hiu macan, hingga gigi milik predator raksasa purba yang telah punah, megalodon.
Di area dasar samudra yang sama, peneliti juga menemukan nodul polimetalik atau nodul mangan, beberapa di antaranya tampak mengeras dan menyelimuti fosil-fosil gigi hiu tersebut. Temuan ini memberikan data geologis dan biologi laut penting mengenai dinamika ekosistem laut dalam Samudra Hindia lintas era.






