Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan keberhasilan penyitaan satu unit wahana bawah air tak berawak atau unmanned underwater vehicle (UUV) strategis milik militer Amerika Serikat pada Selasa (8/9/2026) dini hari. Operasi pencegatan aset militer tersebut dilakukan melalui pendekatan teknis dan intelijen di kawasan pintu masuk Selat Hormuz.
Berdasarkan identifikasi pihak IRGC, perangkat militer yang diamankan tersebut merupakan model Dive-LD (Large Displacement). Wahana ini adalah produk unggulan besutan Anduril Industries, perusahaan teknologi pertahanan asal Amerika Serikat yang berfokus pada pengembangan sistem otomasi tempur dan kecerdasan buatan (AI).
Ledakan Ebola di RD Kongo Capai 6.757 Kasus

Kemampuan dan Teknologi Dive-LD
Dive-LD dirancang khusus untuk menjalankan misi bawah laut berskala kompleks tanpa melibatkan awak manusia. Dalam doktrin operasi Angkatan Laut AS, wahana UUV jenis ini mengemban fungsi pemetaan kontur bawah laut, pengawasan wilayah perairan, hingga deteksi ancaman maritim secara senyap.
Dari sisi rancang bangun militer, Dive-LD memiliki sejumlah spesifikasi teknis dan keunggulan strategis:
Kodam XVII/Cenderawasih Kerahkan 285 Prajurit Bersihkan Puing Kebakaran di Jayapura

- Produksi Cepat Berbasis Cetak 3D: Struktur wahana dirancang untuk memungkinkan proses manufaktur berskala besar menggunakan metode 3D-printing, memangkas waktu produksi perangkat keras tempur.
- Sistem Operasi Lattice OS: Menjalankan perangkat lunak kendali otonom rahasia milik Anduril Industries, yang mengatur navigasi cerdas dan pemrosesan data misi.
- Integrasi Teknologi Terkini: Pihak Teheran mengklaim unit yang diamankan mengusung teknologi mutakhir yang baru dioperasikan penuh oleh Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 2025.
Hingga saat ini, IRGC menyatakan unit Dive-LD tersebut berada dalam kendali penuh militer Iran. Otoritas Iran juga menjadwalkan penayangan bukti dokumentasi visual dan foto perangkat tersebut kepada publik internasional. Sementara itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai klaim penangkapan aset bawah laut mereka.






