Penyebaran virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) kian mengkhawatirkan setelah jumlah kasus terkonfirmasi kini menembus angka 6.757 dengan 3.267 korban jiwa. Laporan harian Institut Nasional Kesehatan Masyarakat RD Kongo (INSP) pada Rabu (9/9) mencatat lonjakan signifikan dalam kurun waktu 24 jam terakhir, yakni 71 kasus baru dan 41 kematian.
Perkembangan ini memperlihatkan eskalasi krisis yang kian tajam bila dibandingkan dengan catatan wabah ke-17 sebelumnya, yang menelan 2.325 korban jiwa di tengah tantangan konflik bersenjata dan ketidakpercayaan publik. Tantangan penanganan saat ini bertambah berat lantaran varian Ebola Bundibugyo yang merebak belum mengantongi izin resmi untuk vaksin maupun pengobatan spesifik.
Spesifikasi Kapal Selam Nirawak Canggih Milik AS yang Ditangkap Iran

Meski belum memiliki izin resmi untuk varian tersebut, data laboratorium mengindikasikan vaksin Ervebo yang didistribusikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpotensi memberikan perlindungan. Pada 20 Agustus lalu, WHO telah menyalurkan 70.000 dosis vaksin Ervebo ke Kongo untuk memproteksi para tenaga kesehatan sekaligus mendukung keperluan uji klinis.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus telah tiba langsung di RD Kongo untuk meninjau penanganan wabah ini, di mana satu pasien varian Bundibugyo untuk pertama kalinya dilaporkan telah sembuh.
Kodam XVII/Cenderawasih Kerahkan 285 Prajurit Bersihkan Puing Kebakaran di Jayapura

Kekhawatiran lintas batas kian meningkat setelah Prancis mengonfirmasi temuan kasus Ebola pertama pada seorang dokter yang baru kembali dari Kongo. Merespons risiko transmisi kawasan, sebanyak 10 negara di Afrika mulai memperketat penjagaan di perbatasan. Di sisi lain, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Afrika (CDC Afrika) telah menerima bantuan dana senilai 106 juta dolar AS dari Inggris guna mendanai operasi lapangan di RD Kongo dan Uganda.






