Penerapan skema Tadpole dalam layanan pinjaman daring (pindar) dinilai merugikan peminjam. Skema pembayaran ini membebankan porsi cicilan yang jauh lebih besar pada awal periode pinjaman, lalu nominalnya berangsur mengecil pada periode-periode berikutnya. Pola tersebut menuai sorotan karena dinilai memberatkan pengguna yang pada dasarnya membutuhkan fleksibilitas finansial saat mengajukan pinjaman.
Anggota Komisi X DPR RI Harris Turino menyoroti mekanisme skema Tadpole yang menempatkan kewajiban peminjam lebih besar pada awal masa pinjaman sebelum mengecil di periode selanjutnya. Harris menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata-mata menyangkut teknis pinjaman online, melainkan berkaitan langsung dengan aspek perlindungan konsumen serta integritas dari industri jasa keuangan secara menyeluruh.
Dinilai Tidak Adil dan Dibatasi OJK
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyatakan bahwa skema Tadpole telah dibatasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena dinilai tidak adil bagi peminjam. Peminjam pada dasarnya mengakses fasilitas pembiayaan karena tidak memiliki uang di awal, sehingga kewajiban membayar cicilan tinggi di awal masa pinjaman justru membebani kondisi keuangan mereka.
Paylater Bank Tumbuh 31,22% YoY pada Juli 2026, Lampaui Pertumbuhan Kredit Nasional

Dari sudut pandang penyelenggara, skema Tadpole selama ini diterapkan untuk menekan risiko terjadinya gagal bayar pada akhir masa pinjaman. Penyelenggara berupaya mempercepat penarikan dana di muka agar risiko piutang macet di pengujung tenor dapat berkurang.
Ilustrasi Cicilan dan Evaluasi Credit Scoring
Untuk memberikan gambaran, peminjam yang mengambil pinjaman dengan pokok utang Rp1 juta dan bunga Rp300 ribu memiliki total kewajiban sebesar Rp1,3 juta. Dalam skema Tadpole dengan termin tiga kali pembayaran, cicilan dibuat tidak sama rata, yaitu dipatok sebesar Rp700 ribu pada cicilan pertama, Rp400 ribu pada cicilan kedua, dan Rp200 ribu pada cicilan ketiga.
Indeks Inklusi Keuangan 93,61, Literasi Digital Jadi Bekal Generasi Muda

Nailul berpendapat bahwa pembayaran cicilan lebih besar di awal masa pinjaman seharusnya bersifat opsional atau menjadi pilihan bagi konsumen yang memang memiliki kemampuan dana, bukan dijadikan kewajiban yang mengikat.
Selain itu, penghentian penggunaan skema Tadpole dinilai dapat memberikan dampak positif bagi ekosistem industri pembiayaan digital. Kebijakan tersebut dapat mendorong platform pinjaman daring untuk memperbaiki dan memperkuat sistem penilaian kelayakan kredit (credit scoring) agar operasional penyaluran kredit menjadi lebih prudent.






