Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks inklusi keuangan telah menyentuh angka 93,61%. Kendati demikian, indeks literasi keuangan masyarakat masih berada di level 69,57%, memperlihatkan adanya celah antara akses layanan finansial dan pemahaman pengguna terhadap produk keuangan.
Kesenjangan tersebut mendorong pelaku industri teknologi finansial dan pemangku kepentingan untuk memperkuat edukasi langsung ke masyarakat, khususnya generasi muda. Penguasaan literasi digital dinilai krusial agar perluasan akses pembiayaan dibarengi dengan kehati-hatian dalam mengelola risiko keuangan sehari-hari.
Paylater Bank Tumbuh 31,22% YoY pada Juli 2026, Lampaui Pertumbuhan Kredit Nasional

Salah satu langkah peningkatan edukasi ditunjukkan oleh penyedia layanan dana tunai berizin dan diawasi OJK, PT Artha Dana Teknologi (Indodana Fintech), lewat program edukasi bertajuk 'Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi'. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) ini diselenggarakan di Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan diikuti oleh lebih dari 170 mahasiswa.
Direktur Utama PT Artha Dana Teknologi, Ronny Wijaya, yang hadir sebagai pemateri, menyoroti sejumlah kemampuan dasar yang mesti dimiliki mahasiswa saat memanfaatkan layanan finansial digital. Materi yang disampaikan berfokus pada cara membedakan platform pinjaman daring legal dan ilegal, memahami batasan akses pada aplikasi, serta memproteksi data pribadi agar tidak disalahgunakan pihak ketiga.
Danantara Ungkap Kriteria Sektor Layak Investasi, Apa Saja?

Penguatan literasi keuangan saat ini juga menjadi perhatian di tingkat regulasi dan forum internasional. OJK bersama lintas kementerian telah mencanangkan Bulan Dana Pensiun 2026 demi membangun kesiapan finansial masyarakat menghadapi masa purnabakti. Sementara itu, dalam pertemuan G20 FMCBG, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung turut menegaskan pentingnya literasi finansial yang solid serta kerja sama lintas negara untuk memitigasi kejahatan penipuan atau fraud digital lintas batas.






