Bencana vulkanik Gunung Ruang yang berlokasi di Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, mendorong pemerintah mengambil langkah penanganan jangka panjang bagi keselamatan warga terdampak. Upaya relokasi permukiman ditetapkan sebagai prioritas utama demi menjauhkan masyarakat dari ancaman bahaya letusan yang berpotensi mengenai mereka secara langsung. Langkah strategis ini diputuskan guna memberikan kepastian tempat tinggal yang lebih aman bagi warga yang sebelumnya bermukim di sekitar area rawan bencana.
Aktivitas vulkanik Gunung Ruang mengalami peningkatan eksplosif dalam rangkaian letusan yang terjadi sepanjang bulan April 2024. Letusan eksplosif tercatat bermula pada tanggal 16 April 2024 pada pukul 21.45 Wita, yang kemudian berlanjut pada tanggal 17 April 2024 pada pukul 01.08 Wita dan pukul 05.05 Wita. Eskalasi aktivitas gunung api tersebut kembali terjadi pada hari Selasa, 30 April 2024 pukul 01.15 Wita dengan tinggi kolom letusan teramati mencapai 2.000 meter di atas puncak. Berdasarkan catatan sejarah kegunungapian, gunung ini pertama kali tercatat mengalami erupsi pada tahun 1808, sementara letusan pada tahun 1871 silam bahkan sempat memicu gelombang tsunami yang menimbulkan hingga 400 korban jiwa.
Dampak rangkaian erupsi pada April 2024 tersebut menimbulkan konsekuensi yang meluas bagi masyarakat di kawasan sekitarnya. Tercatat lebih dari 14.000 warga terdampak oleh bencana alam ini, dan sebanyak 6.000 jiwa terpaksa mengungsi ke berbagai posko pengungsian. Sebaran abu vulkanik di udara juga berdampak langsung pada sektor transportasi udara hingga menyebabkan Bandara Sam Ratulangi di Manado ditutup sementara waktu akibat abu erupsi Gunung Ruang.
Dinamika Pemberlakuan Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta dan Dampaknya bagi Tata Kelola Ibu Kota

Menyikapi eskalasi bencana tersebut, Presiden Joko Widodo memimpin Rapat Terbatas di Istana Negara, Jakarta, pada tanggal 3 Mei 2024 untuk memutuskan skema pemindahan tempat tinggal warga secara permanen. Berdasarkan keputusan pemerintah, sebanyak 301 keluarga yang berpenghidupan di sekitar Gunung Ruang akan segera direlokasi agar lebih aman dari potensi dampak letusan langsung. Dari target tersebut, sebanyak 287 kepala keluarga berasal dari Desa Pumpente dan Desa Laingpatehi, dua desa yang terletak di kaki Gunung Ruang di Pulau Ruang. Lokasi hunian tetap yang disiapkan untuk warga tersebut berada di Desa Modisi, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.
Sebagai tindak lanjut dari instruksi Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Agus Harimurti Yudhoyono bertolak ke Sulawesi Utara pada Minggu, 5 Mei 2024 dini hari. Mengingat Bandara Sam Ratulangi di Manado masih ditutup akibat abu vulkanik, Menteri ATR/BPN mendarat di Bandara Djalaludin, Gorontalo, lalu menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 4 jam menuju Desa Modisi di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan untuk meninjau calon lahan relokasi.
5 Fakta 14 Juta Jiwa Selamat Berkat Kapal 2,6 Ton Narkoba Cair Disergap

Dalam skema pelaksanaan relokasi pengungsi ini, pembagian tugas antarlembaga telah ditetapkan secara jelas. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bertugas membebaskan tanah di wilayah yang telah ditetapkan menjadi lokasi pemukiman baru. Sementara itu, Kementerian ATR/BPN mengemban tugas memastikan tanah di lokasi relokasi Desa Modisi tersebut berstatus clean and clear secara administratif agar proses penanganan pascabencana berjalan lancar.






