Pernyataan mengenai posisi politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kembali menjadi perhatian publik setelah disampaikan secara langsung oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Dalam posisinya sebagai tokoh nasional sekaligus Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati membeberkan arah serta keputusan partainya terkait posisi terhadap pemerintahan saat ini. Keterangan penting tersebut disampaikan oleh Megawati dalam forum resmi pada acara Ekspose Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II yang digelar oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada Senin (10/8). Dalam kesempatan tersebut, Megawati bercerita secara terbuka mengenai sikap partainya yang memilih untuk tetap berada di luar pemerintahan.
Megawati Soekarnoputri mengungkapkan bahwa keputusan mengenai sikap politik PDIP tersebut telah ia sampaikan secara langsung kepada pihak pemerintah. Megawati bercerita bahwa dirinya sempat menyatakan secara langsung kepada Presiden Prabowo mengenai posisi PDIP yang akan tetap berada di luar tatanan kabinet. Langkah komunikasi langsung ini diambil untuk memastikan bahwa arah dan garis kebijakan politik partai disampaikan secara jelas tanpa perantara kepada kepala negara. Penegasan langsung tersebut menunjukkan komitmen Megawati dalam menentukan jalan politik yang diambil oleh partainya di tingkat nasional.
Secara lebih rinci, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menceritakan isi dari perbincangan dan komunikasinya bersama Presiden Prabowo. Megawati menyampaikan secara langsung kepada Presiden Prabowo bahwa dirinya memutuskan untuk tidak bergabung masuk ke dalam jajaran kementerian. Megawati menuturkan kembali perkataannya saat itu kepada Presiden Prabowo, yaitu, "saya tidak masuk ke kabinet Pak, terima kasih banget, saya akan berada di luar sebagai penyeimbang". Pernyataan resmi ini menegaskan bahwa Megawati dan PDIP memilih menempatkan diri pada fungsi penyeimbang dengan memilih tetap berada di luar kabinet pemerintahan.
Cara Menyikapi dan Mengawal Polemik Revisi UU Penyiaran di Indonesia

Selain mengonfirmasi perihal penjelasannya kepada Presiden Prabowo, Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri juga memaparkan konteks ketatanegaraan yang menjadi dasar pemikirannya. Megawati menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang menganut sistem presidensial. Berdasarkan tatanan sistem presidensial tersebut, Megawati menyatakan bahwa Indonesia pada dasarnya tidak mengenal adanya istilah oposisi maupun istilah koalisi dalam struktur pemerintahannya. Penjelasan ini ia sampaikan untuk memberikan pemahaman mengenai tatanan tata negara dan terminologi politik yang berkembang di tengah masyarakat terkait posisi partai terhadap pemerintahan.
Lebih jauh, Megawati Soekarnoputri membandingkan penggunaan istilah oposisi dengan tatanan sistem pemerintahan lain yang berlaku di dunia. Menurut Megawati, penggunaan istilah oposisi sebenarnya merujuk pada tata cara yang berlaku dalam sistem parlementer. Mengenai pemakaian istilah tersebut, Megawati memberikan penegasan kepada para hadirin dengan bertanya, "itu kan yang namanya sistem parlementer, benar apa nggak?". Penjelasan dari Ketua Umum PDIP ini disampaikan guna mempertegas pandangannya bahwa istilah oposisi merupakan bagian dari mekanisme sistem parlementer, bukan sistem presidensial yang diterapkan di Indonesia.
Mendagri Dorong Forkopimda Sumatera Solid Jaga Stabilitas dan Ekonomi Daerah

Di samping menyampaikan penjelasan mengenai posisi partai dan prinsip tata negara, Presiden kelima Republik Indonesia ini belakangan juga menyuarakan pandangannya terkait respons publik terhadap langkah politik partainya. Megawati menyesalkan timbulnya kritik dari sejumlah pihak atas keputusan yang diambil oleh PDIP untuk tetap berada di luar pemerintahan. Meski penyesalan atas kritik tersebut disuarakan, melalui penyampaian pada acara Ekspose Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II yang digelar oleh BPIP pada Senin (10/8) lalu, Megawati memperjelas posisi resmi PDIP yang konsisten memilih berada di luar pemerintahan sebagai kekuatan penyeimbang.






