Pergerakan harga emas di pasar keuangan internasional mencatatkan dinamika yang menarik dan signifikan pada pertengahan bulan Agustus 2026. Berdasarkan data yang dirilis oleh Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan hari Selasa, 11 Agustus 2026, berada dan ditutup pada posisi US$ 4.366,84 per troy ons. Tren pergerakan harga emas tersebut kemudian berlanjut pada sesi perdagangan hari berikutnya. Pada hari Rabu, 12 Agustus 2026, tepatnya pada pukul 06.46 WIB, harga emas terpantau menguat tipis sebesar 0,06 persen hingga mencapai level US$ 4.369,78 per troy ons. Angka pergerakan ini mencerminkan dinamika harga emas yang terus menjadi perhatian utama di pasar global.
Kondisi dan fenomena kenaikan harga emas dunia tersebut mendapat perhatian langsung dari Ekonom Senior INDEF, Aviliani. Dalam acara forum Mindialogue 2026 yang diselenggarakan pada hari Rabu, 12 Agustus 2026, Aviliani menyampaikan penjelasannya terkait dengan pendorong di balik pergerakan harga emas tersebut. Menurut keterangan Aviliani, berbagai negara di dunia saat ini ramai-ramai dan berbondong-bondong melakukan aksi pembelian emas. Pembelian emas yang dilakukan oleh berbagai negara tersebut berlangsung secara besar-besaran dengan tujuan untuk memperkuat cadangan devisa negara masing-masing. Aksi borong emas secara masif inilah yang pada akhirnya memicu dan membuat harga emas dunia menjadi naik pesat.
Selain mengenai aksi pembelian emas oleh berbagai negara sebagai cadangan devisa, Aviliani juga menjelaskan latar belakang lain yang memengaruhi perilaku masyarakat terhadap emas. Aviliani menyebutkan bahwa kondisi perekonomian Amerika saat ini sudah mulai mengalami pelemahan. Dampak dari kondisi ekonomi Amerika yang mulai melemah ini mendorong orang-orang dan para pelaku pasar untuk mulai mengalihkan fokus dan minat mereka ke emas. Keputusan masyarakat yang mulai beralih ke emas tersebut memperkuat tren permintaan terhadap instrumen emas di tengah melemahnya kondisi ekonomi Amerika.
Arab Saudi Alihkan Ekspor Minyak ke Mediterania via Pipa Mesir Hindari Risiko Laut Merah

Dalam kesempatan yang sama pada Mindialogue 2026 tersebut, Aviliani turut memberikan tanggapan mengenai aturan cadangan devisa emas bagi suatu negara, khususnya bagi Indonesia. Aviliani menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada ketentuan khusus mengenai jumlah cadangan devisa emas yang harus dipegang atau dimiliki oleh suatu negara, khususnya Indonesia. Alasan utama di balik hal ini adalah karena preferensi cadangan devisa Indonesia sejauh ini adalah mata uang dolar. Karena preferensi cadangan devisa Indonesia adalah dolar, kepemilikan emas sebagai cadangan devisa tidak terikat oleh suatu batasan atau ketentuan jumlah tertentu.
Di samping pembahasan mengenai cadangan devisa dan pergerakan harga emas, Aviliani juga memberikan catatan terkait kondisi komoditas secara umum. Menurut Aviliani, di tengah situasi kenaikan harga emas yang sedang berlangsung, harga komoditas cenderung mengalami fluktuasi. Fenomena fluktuasi harga komoditas ini terjadi bersamaan dengan tren kenaikan harga emas di pasar dunia, sehingga pergerakan harga komoditas menjadi hal lain yang turut mendapat kecermatan di tengah dinamika kenaikan harga emas.
Promo Semarak Merdeka MyPertamina Beri Diskon Isi Ulang Bright Gas hingga Rp8.100

Secara keseluruhan, penjelasan Ekonom Senior INDEF Aviliani pada hari Rabu, 12 Agustus 2026 dalam forum Mindialogue 2026 menjabarkan keterkaitan erat antara melemahnya ekonomi Amerika, maraknya aksi berbagai negara membeli emas secara besar-besaran untuk cadangan devisa, serta pergerakan harga emas yang berdasarkan data Refinitiv ditutup pada US$ 4.366,84 per troy ons pada Selasa, 11 Agustus 2026, dan menguat tipis ke US$ 4.369,78 per troy ons pada Rabu, 12 Agustus 2026 pukul 06.46 WIB. Pemaparan tersebut juga menegaskan preferensi cadangan devisa Indonesia pada mata uang dolar tanpa adanya ketentuan jumlah cadangan devisa emas, serta kecenderungan timbulnya fluktuasi harga komoditas di tengah tren kenaikan emas tersebut.






