Panitia penyelenggara Sidang Bersama Tahunan MPR-DPR-DPD 2026 mengambil keputusan untuk hanya memutar lagu-lagu nasional dan lagu daerah selama rangkaian acara berlangsung di kompleks parlemen, Jakarta. Keputusan ini ditetapkan demi menjaga kekhidmatan persidangan kenegaraan tersebut agar berjalan dengan tertib. Kebijakan mengenai pemilihan lagu ini dirancang secara khusus untuk membatasi sekaligus mencegah aksi berjoget para peserta di ruang sidang seperti yang pernah terjadi pada pelaksanaan tahun 2025. Langkah perbaikan ini disiapkan bertepatan dengan momentum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang kini telah menginjak usia ke-81 tahun.
Aturan mengenai pemutaran musik tersebut merupakan hasil dari evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan sidang pada tahun sebelumnya. Kepala Biro Protokol, Humas, dan Media Sekretariat Jenderal DPD RI, Mahyu Darma, menyampaikan informasi tersebut saat memberikan keterangan di kompleks parlemen, Jakarta, pada Rabu (12/8). Mahyu menjelaskan bahwa pihak panitia memilih untuk tidak memutar lagu-lagu yang berpotensi memancing aksi berjoget dari para peserta sidang. Selain melakukan pengaturan terhadap jenis musik yang diperdengarkan, pihak penyelenggara juga menyiapkan dekorasi gedung secara sederhana. Dekorasi yang sederhana ini dihadirkan untuk memastikan seluruh rangkaian acara berlangsung khidmat serta mampu merepresentasikan suasana acara kenegaraan yang resmi.
Pramono Ancam Tutup Pengelola Swasta Tempat Sampah Ilegal di Nagrak Cilincing

Evaluasi atas penyelenggaraan sidang ini dilakukan menyusul dampak serta dinamika publik yang timbul setelah pelaksanaan sidang tahun sebelumnya. Pada saat Sidang Tahunan 2025 berlangsung, aksi berjoget para anggota dewan yang dipicu oleh pemutaran lagu populer selepas acara menuai sorotan serius. Peristiwa aksi joget anggota dewan di ruang sidang tersebut memicu timbulnya sentimen publik serta memicu gelombang demonstrasi pada akhir Agustus 2025. Dengan dilakukannya pembatasan pemutaran lagu pada tahun 2026, pihak panitia berharap suasana kekhidmatan persidangan dapat terjaga dari awal hingga akhir acara.
Komitmen untuk menjaga kekhidmatan jalannya persidangan juga disampaikan oleh pihak pimpinan dewan. Ketua DPR RI Puan Maharani berjanji bahwa pelaksanaan Sidang Tahunan MPR 2026 akan berlangsung lebih khidmat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Politikus dari PDIP ini memberikan pandangannya mengenai peristiwa yang terjadi pada Sidang Tahunan MPR 2025 lalu. Menurut Puan, aksi joget yang dilakukan peserta kala itu terjadi secara spontan karena dipengaruhi suasana gembira setelah mendengarkan pidato Presiden. Walaupun terjadi aksi spontan tersebut, Puan menegaskan bahwa seluruh peserta persidangan pada saat itu tetap khidmat dalam mengikuti jalannya sidang dan menyimak pidato Presiden. Puan juga menilai bahwa masyarakat sudah sepatutnya merasa bahagia dan gembira dalam menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia yang menginjak usia 81 tahun.
Modus Arisan Online Bodong Rp71 Miliar di Jawa Timur dan Cara Melaporkannya

Pelaksanaan Sidang Tahunan MPR 2026 ini diperkirakan akan dihadiri oleh total 1.200 orang peserta. Komposisi peserta yang hadir di ruang sidang mencakup 732 anggota DPR dan DPD, para mantan presiden dan wakil presiden, jajaran anggota kabinet, serta tamu VIP dari para duta besar negara-negara sahabat. Di samping unsur anggota dewan dan pejabat kenegaraan tersebut, terdapat pula delapan orang tamu khusus yang secara langsung diundang oleh Presiden Prabowo Subianto. Delapan tamu khusus tersebut merupakan para masyarakat penerima manfaat dari program strategis pemerintah.






